Proyek Listrik Sampah Bantargebang Rugi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mesin pembangkit listrik sampah Bantar Gebang,Bekasi, Jawa Barat. TEMPO/Hamluddin

    Mesin pembangkit listrik sampah Bantar Gebang,Bekasi, Jawa Barat. TEMPO/Hamluddin

    TEMPO.CO, Bekasi -- Proyek listrik sampah di kawasan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, rugi. Produksi listrik saat ini hanya sekitar 6 MW dengan pendapatan kurang dari Rp 10 miliar.

    Direktur Utama PT Godang Tua Jaya Rexon Sitorus--operator TPST Bantargebang-- mengatakan pembangkit listrik dengan cara membakar gas methana sampah menggunakan engine tak mampu memberikan keuntungan besar. "Lebih besar modalnya ketimbang hasilnya," kata Rexon, Jumat 12 September 2014.

    Padahal proyek listrik sampah telah berjalan enam tahun dengan target produksi listrik seluruhnya 26 MW yang dijual ke Perusahaan Listrik Negara (PLN). Selama enam tahun berjalan, TPST Bantargebang telah memasang dua gas engine, fuel skid, flare stack dan trafo. Masing-masing engine menghasilkan listrik 3,2 MW, dan 3,4 MW.

    Teknologi pembangkit dibeli dari Eropa, dan sudah menghabiskan dana Rp 460 miliar dari total rencana investasi Rp 700 miliar. Karena kecilnya keuntungan proyek tersebut tenaga ahli dari Sindicatum Carbon, sebuah yayasan nirlaba asal Inggris mundur dan digantikan tenaga asli asal Australia di bawah bendera PT Navigat Organic Energy Indonesia.

    Rexon menjelaskan kecilnya hasil listrik karena sampah dari DKI Jakarta yang dibuang ke TPST Bantargebang tidak dipilah. Sampah organik dan non organik menyatu sehingga lebih banyak menghasilkan air licit dan mengurangi kadar gas methana. Saat mesin menyedot gas melalui pipa-pita yang ditanam ke dalam perut sampah banyak air sampah ikut. "Volume gasnya sangat kecil," ujar Rexon.

    Setiap harinya Pemerintah DKI Jakarta membuang sampah ke TPST Bantargebang sekitar 5.500-6.000 ton dengan tipping fee sebesar Rp 123 ribu per ton sampah. Sekitar 20 persen dari nilai tipping fee itu masuk ke Kota Bekasi sebagai kompensasi yang disalurkan kepada warga dalam bentuk community development.

    Tahun lalu, jumlah kompensasi yang diterima Pemerintah Kota Bekasi sebanyak Rp 54 miliar, dana tersebut digunakan untuk rehabilitasi lingkungan, rehabilitasi pendidikan, dan kegiatan sosial keagamaan warga di sekitar lokasi TPST Bantargebang yang luasnya mencapai 110 hektar.


    HAMLUDDIN



    Berita Lain:


    5 Juta Username dan Password Gmail Bocor
    Studi Psikologi: Insiden MH370 Hasil Konspirasi
    Ini Para Pesaing Dell Vostro 3900
    Kabar Gembira, Lubang di Lapisan Ozon Mengecil



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berbagai Cara dalam Menekan Pelanggaran Batasan Bawaan Penumpang

    Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terus berupaya menekan pelanggaran batasan bawaan penumpang dari luar negeri di pintu masuk bandara.