Usul Wagub, Ahok Kirim Dua Surat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sarwo Handayani dan Ahok. Dok. TEMPO/Panca Syurkani, TEMPO/Aditia Noviansyah

    Sarwo Handayani dan Ahok. Dok. TEMPO/Panca Syurkani, TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menyiapkan dua surat usulan calon Wakil Gubernur DKI yang akan dikirimkan kepada Kementerian Dalam Negeri. Masing-masing surat tersebut berisi nama Ketua Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan Sarwo Handayani dan mantan Wali Kota Blitar yang juga politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Djarot Saiful Hidayat.

    "Surat dikirim setelah peraturan pemerintahnya saya terima," kata Ahok di Balai Kota, Senin, 1 Desember 2014. (Baca: Enam Tokoh Ini Disebut-sebut Bakal Jadi Wakil Ahok)

    Ahok mengaku hanya menginginkan PDI Perjuangan mengajukan Djarot sebagai wakil gubernur. Alasannya, Ahok telah mengenal Djarot sejak lama. Djarot, kata Ahok, memiliki rekam jejak yang bersih selama sepuluh tahun memimpin Blitar.

    Ahok dan Djarot pertama kali pertemu pada 2006 saat Ahok masih menjabat Bupati Belitung Timur. Selain itu, kata Ahok, Djarot dan dia memiliki kesamaan visi dalam membangun daerah. (Baca: Ahok Tolak Calon Wakil Gubernur dari Partai Politik)

    Namun, Ahok melanjutkan, Djarot belum menyatakan kesediaannya meski dia sudah pernah "meminang" Djarot secara langsung. Sebab, nama calon Wakil Gubernur DKI usulan PDI Perjuangan harus disetujui oleh Dewan Pimpinan Pusat PDIP. "PDIP memiliki tradisi yang bersangkutan tidak boleh bilang iya atau tidak sampai DPP memutuskan," ujar Ahok.

    Pada akhir November 2014, DPP PDIP mengajukan Boy Bernardi Sadikin untuk mendampingi Ahok. Tapi Ahok mengajukan syarat lain, yakni wakilnya harus berpengalaman memimpin daerah. Dengan demikian, Boy bukan calon yang diharapkan Ahok. (Baca: Ahok Serahkan Nama Wakil Gubernur Pekan Ini)

    Ahok mengatakan ada opsi lain, yakni mengirimkan surat berisi nama Sarwo Handayani jika PDIP berkukuh mengajukan Boy sebagai wakil gubernur. Ahok beralasan, Yani memiliki kompetensi yang lebih mumpuni ketimbang Boy. Pengalaman Yani sebagai birokrat di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat dimanfaatkan untuk mengejar penyelesaian program-program pembangunan dalam kurun tiga tahun. "Kalau PDIP tak mengajukan Pak Djarot, maka saya pilih Bu Yani," ujar Ahok.

    LINDA HAIRANI

    Berita Terpopuler
    Jokowi Diserang Media Malaysia, Ini Pembelaan Susi
    Yorrys: Ical Bikin Partai Lapindo Jaya Saja 
    Golkar Pecah, Agung Tutup Pintu Islah dengan Ical  

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.