3 Simpul Pengurai Kemacetan Jakarta  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Prof. Danang Parikesit, akademisi dari UGM yang juga merupakan staf khusus Menteri PU dan ketua umum Transportasi Indonesia. Tempo/Fardi Bestari

    Prof. Danang Parikesit, akademisi dari UGM yang juga merupakan staf khusus Menteri PU dan ketua umum Transportasi Indonesia. Tempo/Fardi Bestari

    TEMPO.CO, Jakarta - Kemacetan di Ibu Kota menjadi sebuah permasalahan klasik, terutama menjelang dan sesudah jam kantor. Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia Danang Parikesit membeberkan setidaknya ada tiga simpul yang saling berkaitan untuk dapat mengurai kemacetan di Jakarta.

    Pertama adalah transportasi massal. Menurut Danang, semua proyek transportasi massal saat ini tak akan efektif menjadi solusi permanen untuk mengurai kemacetan. "Jika hanya dipandang sebagai single project, tak akan menawarkan solusi apa pun tanpa ada pola integrasi di dalamnya," ujar Danang kepada Tempo, Selasa, 2 Desember 2014. (Baca: Macet, Ada Lampu Lalu Lintas Baru di Jalan Juanda)

    Karena itu, menurut dia, semua rencana model transportasi harus saling terintegrasi, termasuk soal interchange, supaya efektif. "Idealnya disediakan feeder dari lokasi tujuan ke tujuan akhir," ujarnya. (Baca: Depok Jadi Kota Termacet, DPRD: Memang Layak)

    Terkait dengan feeder ini, Danang mencontohkan, jika dari halte menuju ke dalam kawasan perkantoran yang letak gedungnya di ujung kompleks dan harus mengojek setiap hari sebesar Rp 15 ribu, masyarakat akan memilih menggunakan kendaraan pribadi. (Baca: Gara-gara MRT, Waktu Macet di Sudirman Maju 2 Jam)

    Simpul kedua, kata Danang, adalah lahan parkir. Menurut dia, masyarakat harus disediakan lahan parkir yang memadai untuk masuk ke stasiun MRT atau di halte-halte angkutan umum.

    Simpul ketiga adalah integrasi jadwal. Alasannya, masyarakat pengguna transportasi adalah kelas pekerja yang memiliki jadwal atau time management ketat. "Akan sangat ideal jika feeder terjadwal dengan baik," ujarnya. Dengan sistem integrasi seperti ini, kata Danang, kemacetan tak akan menjadi masalah pelik di Jakarta dan kawasan sekitarnya.

    Danang mengatakan tak butuh waktu lama bagi Jakarta untuk mulai membangun dan mengimplementasikan transportasi dengan tiga simpul ini. Profesor di bidang transportasi dari UGM tersebut memprediksi hanya dibutuhkan waktu paling lama lima tahun bagi Jakarta untuk mewujudkan sistem transportasi yang terintegrasi apabila ada komitmen tinggi dari pemerintah.

    DINI PRAMITA

    Topik terhangat:

    Golkar Pecah | Wakil Ahok | Kasus Munir | Susi Pudjiastuti

    Berita terpopuler lainnya:
    FPI Pilih Gubernur Jakarta Fahrurrozi. Siapa Dia?
    Risiko jika Jokowi Tenggelamkan Kapal Ilegal 
    Muhammad, Nama Bayi Lelaki Terpopuler di Inggris


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.