Begini Trik Perampok 'Taksi Putih' Menjebak Korban  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas kepolisian memperlihatkan barang bukti serta tiga tersangka spesialis perampokan penumpang dalam taksi saat gelar perkara di Sub Dit Resmob Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Jakarta, Jumat (9/11). TEMPO/Tony Hartawan

    Petugas kepolisian memperlihatkan barang bukti serta tiga tersangka spesialis perampokan penumpang dalam taksi saat gelar perkara di Sub Dit Resmob Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Jakarta, Jumat (9/11). TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO , Jakarta - Kepolisian telah menangkap tiga tersangka perampok yang menggunakan taksi putih saat beraksi. Mereka adalah Sutrisno, 41 tahun, Edward Syah Jaya (31), dan Agus Supriyanto (22). Sedangkan satu tersangka bernama Jambi hingga saat ini masih buron. (Baca: Ini Cara Polisi Meringkus Perampok di Taksi Putih)

    Berdasarkan hasil pemeriksaan diketahui, komplotan itu menggunakan taksi curian dan memodifikasi kendaraan itu. Modifikasinya adalah dengan menyamarkan desain taksi seperti taksi legal. Selain itu mereka juga menghilangkan sekat antara bagasi dan kabin belakang. “Itu untuk memudahkan pelaku masuk dari bagasi ke kabin belakang,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Heru Pranoto, Senin, 8 Januari 2014. (Baca juga: Perampok 'Taksi Putih' Gunakan Mobil Curian)

    Untuk menjebak korban, komplotan itu trik khusus. Mereka lebih dulu berputar-putar dengan taksi di pusat kota. “Pelaku mencari korban secara acak,” kata Heru. Calon korban yang mereka incar adalah kaum hawa yang menyetop taksi sendirian di pinggir jalan.

    Setelah korban masuk perangkap, sopir akan memberi kode kepada kawannya yang bersembunyi di bagasi. “Kodenya, sopir mengerem dua kali,” kata Heru. Tersangka di bagasi segera keluar dari persembunyian dengan mendorong senderan kursi belakang. "Pelaku menggunakan pistol mainan jenis revolver untuk menakuti korban." (Baca: Perampokan di Taksi, Pelaku Gunakan Kode Rem)

    Saat korban sudah dilumpuhkan, komplotan itu menjemput rekannya. Selanjutnya, harta korban dikuras. Jika korban memiliki kartu ATM, pelaku akan memaksa korban menyebutkan nomor PIN kartu tersebut. "Rata-rata yang diincar memang uang di ATM itu," ujar Heru.
     
    Pelaku kemudian menurunkan korban di suatu tempat. Sebelum melarikan diri, mereka  memberi korban uang Rp 100 ribu untuk ongkos pulang. “Komplotan ini sudah melakukan 4 kali perampokan. Semuanya dilakukan di sekitar kawasan SCBD dan Mega Kuningan, Jakarta Selatan,” kata Heru.

    NINIS CHAIRUNNISA

    Berita lain:
    Jokowi Tolak Sahkan Golkar Kubu Ical dan Agung

    Golkar Hengkang dari Koalisi Prabowo

    Faisal Basri Segera 'Telanjangi' Petral


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.