Ahok: Jadi Gubernur DKI Enggak Enak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Jakarta, Ahok (kiri), menjajal bus tingkat baru disaksikan ketua Yayasan Tahir Foundation, Dato Sri Dr Tahir, di silang Monas, Jakarta, 10 Desember 2014. TEMPO/Dasril Roszandi

    Gubernur DKI Jakarta, Ahok (kiri), menjajal bus tingkat baru disaksikan ketua Yayasan Tahir Foundation, Dato Sri Dr Tahir, di silang Monas, Jakarta, 10 Desember 2014. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Jakarta - Basuki Tjahaja Purnama mengaku sejak menjabat Gubernur DKI Jakarta waktunya terkuras untuk menyelesaikan berbagai persoalan di Jakarta. "Kerjaan ini enggak enak. Sabtu-Minggu saja ada acara," katanya, saat acara Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional, di Monas, Jakarta Pusat, 13 Desember 2014.

    Seharusnya, Ahok melanjutkan, waktu luang bisa digunakan untuk kegiatan refreshing bersama keluarga. "Sabtu-Minggu seharusnya bisa ke Singapura menikmati opera," kelakarnya. (Baca: Ahok: Mafia Preman 'Petakin' Monas)

    Ketidaknyamanan lainnya, Ahok menambahkan, banyak warga mengancam dirinya. Ancamannya dengan tidak memilih mantan Bupati Belitung Timur itu pada Pemilihan Kepala Daerah 2017. (Baca:Ahok Soal Razia PSK: Tua Digaruk, yang Muda Enggak)

    "Saya katakan jangan gertak dengan tidak memilih saya lagi. Sampai tujuh turunan enggak memilih saya juga tidak apa-apa," ujar Ahok. Ia mengaku sudah resisten dengan ancaman seperti itu.

    Ia pun memiliki kiat bagaimana cara memimpin Jakarta. "Memimpin Jakarta itu tidak perlu cerdas, karena orang cerdas banyak. Yang perlu itu kuat otot," ucapnya. (Baca:Cerita Ahok Saat Kaca Spionnya Dicoleng)

    Ia melanjutkan, setiap hari dirinya melatih otot jantung dan kakinya dengan cara olahraga pagi. Tujuannya, "Kalau didemo biar bisa lari kenceng," kelakar Ahok.

    ERWAN HERMAWAN

    Baca juga:
    Jokowi Nyumbang Masjid di Afganistan Rp 5 Miliar
    Longsor Banjarnegara, Kemensos Andalkan Stok Gudang
    Plus-Minus Kurikulum 2013 Versi Dewan Pendidikan
    Ahok: Mafia Preman 'Petakin' Monas


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.