Operasi Zebra, Polisi: Pengemudi Tak Berani Langgar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anggota petugas kepolisian membawa data tilang kendaraan bermotor yang melanggar aturan berkendara saat Operasi Zebra 2013 di kawasan Otista, Jakarta (28/11). Tempo/Aditia Noviansyah

    Seorang anggota petugas kepolisian membawa data tilang kendaraan bermotor yang melanggar aturan berkendara saat Operasi Zebra 2013 di kawasan Otista, Jakarta (28/11). Tempo/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian Daerah Metro Jaya mengklaim Operasi Zebra Jaya 2014 yang digelar 26 November - 9 Desember 2014, membuat pelanggaran lalu lintas berkurang. Operasi selama dua pekan itu, menilang sebanyak 80.960 kendaraan dan memberikan teguran kepada 14.343 pengemudi.

    “Sekarang, pelanggaran di busway, bahu jalan, dan kendaraan yang melawan arus mulai berkurang atau sedikit,” kata Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto kepada Tempo, Sabtu, 13 Desember 2014.

    Rikwanto berpendapat pengurangan pelanggaran ini karena Operasi Zebra menimbulkan efek jera kepada pengguna kendaraan yang sering melanggar lalu lintas. “Ini efek jeranya, jadi pengemudi sudah tidak berani melanggar lalu lintas lagi,” ujarnya. (Baca: Sepekan Operasi Zebra, 80 Ribu Kendaraan Ditilang)

    Ihwal rambu lalu lintas belok kiri langsung, Rikwanto menjelaskan, sudah mengikuti lampu lalu lintas atau traffic light. “Yang diperbolehkan belok kiri langsung hanya yang ada tandanya saja, kalau tidak ada, harus mengikuti traffic light,” katanya.

    Kepala Subdirektorat Pembinaan dan Penegakan Hukum Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Hindarsono mengatakan kendaraan yang paling banyak melakukan pelanggaran selama Operasi Zebra adalah sepeda motor dengan jumlah pelanggar sebanyak 58.012. Adapun pelanggaran yang dilakukan angkutan umum, yakni mikrolet sebanyak 8.548, Metro Mini 1.060, Taksi 3.247, mobil pribadi 5.743, dan kendaraan pengangkut barang 2.806 kendaraan.

    Dalam Operasi Zebra Jaya 2014, target sasaran penindakan juga kepada angkutan umum yang menaikan dan menurunkan penumpang sebarangan dan melawan arus. "Paling banyak kendaraan melawan arus, yakni ada 19.964," kata Hindarsono. Sedangkan, kendaraan yang menaik-turunkan penumpang tidak pada tempatnya ada 9.839 kejadian. (Baca: Operasi Zebra Tak Memberikan Efek Jera)

    AFRILIA SURYANIS

    Berita Lainnya:
    Cerita Ahok Saat Kaca Spionnya Dicoleng
    Menteri Gobel Cabut Izin 2.166 Importir  
    Jokowi: Investor Besar Korea Antre ke Indonesia  
    Dijerat KPK, Bupati Zaini Dibela Golkar Versi Ical


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.