Minuman Oplosan di Depok Dijual dengan Gerobak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • 6.600 botol minuman keras hasil operasi penyakit masyarakat selama setahun akan dimusnahkan oleh Kepolisian Resor Banyumas di GOR Satria Purwokerto, 23 Desember 2014. TEMPO/Aris Andrianto

    6.600 botol minuman keras hasil operasi penyakit masyarakat selama setahun akan dimusnahkan oleh Kepolisian Resor Banyumas di GOR Satria Purwokerto, 23 Desember 2014. TEMPO/Aris Andrianto

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian Sektor Cimanggis berhasil mengidentifikasi penjual minuman keras oplosan yang dikonsumsi empat pemuda di Depok pada malam tahun baru sehingga menyebabkan tiga di antaranya tewas. Pelaku merupakan pedagang minuman keliling menggunakan gerobak.

    "Pelaku adalah pedagang minuman yang menjajakannya dengan gerobak," kata Kepala Polsek Cimanggis Komisaris Bambang Irianto, Senin, 5 Januari 2015. (Baca: Tiga Warga Depok Tewas Minum Oplosan)

    Hari ini, Polsek menerjunkan tim khusus untuk menangkap pelaku. Mereka akan menyisir para pedagang keliling untuk mencari keberadaan pelaku. "Tapi dia masih menghilang," katanya.

    Menurut Bambang, keempat korban membeli miras itu di daerah Simpangan Sukmajaya, Depok. Mereka kemudian berpesta miras oplosan itu di pinggir Jalan Kramat III, Kelurahan Sukatani, Tapos. "Diketahui jenis minuman Ginseng 'GG' ditambah campuran bahan lain yang masih diselidiki," kata dia.

    Tiga warga Sukatani, Kecamatan Tapos, Depok, meninggal dunia di RS Sentra Medika Depok pada Sabtu malam, 3 Januari 2015 karena mengkonsumsi miras oplosan. Tiga korban meninggal adalah Firman Ubaidillah, 24 tahun, Zarkasih, 25 tahun, dan Ahmad Zakaria, 23 tahun. Sementara satu korban kritis masih dirawat di RS Sentra Medika bernama Fery Parhani, 23 tahun.

    Para korban menenggak minuman itu pada malam pergantian tahun 2014-2015. Ketika pulang ke rumah, mereka langsung muntah-muntah. Akhirnya mereka dibawa ke RS Sentra Medika pada hari Sabtu. (Baca juga: Jay Subiakto: Miras Oplosan Jadi Gaya Hidup)

    Menurut Bambang, kepolisian sedikit menemui kendala dalam proses penyelidikan. Soalnya pihak keluarga korban tidak membuat laporan resmi. "Saat jenazah korban dibawa ke RS Polri Kramat Jati, pihak keluarga mengucap bahwa kematian anaknya hanya sakit biasa saja," kata Bambang. Meski keluarga tidak melapor, petugas tetap akan mengejar pelaku. "Supaya tidak ada lagi jatuh korban."

    Petugas RS Sentra Medika, Sogyono, membenarkan ketiga korban meninggal sesaat setelah masuk RS. "Meninggalnya hari Sabtu," katanya. Dia juga membenarkan, korban meninggal karena mengkonsumsi zat beracun dalam miras oplosan. "Masih ada satu orang yang masih kritis," katanya.

    ILHAM TIRTA

    Berita lain:
    Surat Cinta Menteri Jonan untuk Para Pilot

    Jonan Bekukan Rute Air Asia, Singapura Bereaksi

    Ribut AirAsia , Jonan Panggil Dua Pejabat Ini


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.