Pemandu di Bus Wisata Curhat 'Kejamnya' Ahok  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga menghampiri Bus Tingkat Pariwisata yang baru tiba di kawasan Jl. Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, 3 Januari 2015. Bus Belum memadainya jumlah armada bus menyebabkan para calon penumpang harus menunggu hingga lebih dari 1 jam. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Warga menghampiri Bus Tingkat Pariwisata yang baru tiba di kawasan Jl. Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, 3 Januari 2015. Bus Belum memadainya jumlah armada bus menyebabkan para calon penumpang harus menunggu hingga lebih dari 1 jam. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Koordinator pemandu wisata bus City Tour Jakarta, Asep Kambali, membeberkan perbedaan Joko Widodo dengan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dalam mengelola bus pariwisata. (Baca: Usai Merombak Pejabat Ahok Kebanjiran Pengaduan)

    Menurut Asep, gagasan bus wisata berawal dari Jokowi saat menjabat Gubernur DKI Jakarta. Ketika itu, Jokowi, ujar Asep, ingin mengenalkan potensi wisata dan budaya Jakarta. (Baca: PNS Jakarta Wajib Buat Laporan Kinerja Setiap Hari)

    "Jokowi fokus membentuk citra Ibu Kota sebagai salah satu tempat wisata," ujar Asep ketika dihubungi Tempo, Senin, 5 Januari 2015. Sedangkan Gubernur DKI Jakarta sekarang, Ahok, fokus pada penghematan anggaran dibanding melengkapi Jakarta dengan fasilitas wisata. (Baca: Ahok Jamin Bus City Tour Tetap Beroperasi)

    Akibatnya, tutur Asep, kini pemandu wisata yang bertugas di dalam bus City Tour Jakarta, diberhentikan demi penghematan. Padahal, kata Asep, bus wisata merupakan salah satu cara mengenalkan Jakarta pada wisatawan asing dan domestik. "Bus wisata itu hal yang lumrah. Di kota-kota besar negara lain juga terdapat bus wisata," katanya. (Baca: Ahok Janji Tukang Parkir Digaji Rp 4 Juta, Nyatanya...)

    Ahok telah mengalihkan pengelolaan bus wisata yang semula berada di bawah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta ke PT Transjakarta. Peralihan pengelola ini guna mengintegrasikan moda transportasi di Jakarta. Selain itu, Ahok juga menyatakan bus tingkat itu tak lagi dilengkapi pemandu wisata. (Baca: Ahok Rombak PNS DKI dan Gambling Pilkada 2017)

    Asep menyayangkan tak adanya pemandu wisata dalam bus tingkat tersebut. Padahal, ujar Asep, minat wisatawan dan warga Jakarta terhadap fasilitas tersebut cukup tinggi. (Baca: Pakai Voorijder, Ketua DPRD DKI Disindir Ahok)

    Asep menjelaskan, dengan tak adanya pemandu wisata dalam bus, wisatawan atau warga Jakarta yang menggunakan bus tingkat akan kesulitan memahami sejarah Ibu Kota. "Tak ada bedanya naik bus kota dengan bus wisata jika tak ada pemandunya." (Baca: Ahok Sidak Pejabat, Temukan Laci Penuh Puntung)

    Akibat pemutusan hubungan kerja sepihak itu, tutur Asep, 12 pemandu wisata per harinya menganggur. (Baca: Ahok: Saya Tak Terlalu Pintar, tapi...)

    GANGSAR PARIKESIT

    Topik terhangat:

    AirAsia | Banjir | Natal dan Tahun Baru | ISIS | Susi Pudjiastuti

    Berita terpopuler lainnya:
    Bos Air Asia: Headline Media Malaysia Ngawur 
    Adian Napitupulu: Wiranto Danai 'Di Balik 98'? 
    Sangat Berani, Tim SAR Indonesia Dikagumi Amerika 
    Kayle Jadi Korban Air Asia QZ8501, Siapa Dia?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.