Djarot Blusukan ke Terminal Senilai Rp 600 Miliar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terminal Pulogebang, Jakarta,  (7/1). ANTARA/Dhoni Setiawan

    Terminal Pulogebang, Jakarta, (7/1). ANTARA/Dhoni Setiawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengeluarkan ultimatum kepada pengelola Terminal Pulogebang, Jakarta Timur, agar segera mengoperasikan terminal. Djarot khawatir terminal yang menyedot biaya sekitar Rp 600 miliar ini mangkrak alias tak berfungsi. Sebab, Djarot menganggap pembangunan fisik terminal tersebut sudah rampung, tapi kegiatan pengangkutan penumpang tak tampak.

    Pernyataan itu disampaikan Kepala Satuan Pelayanan Operasional Terminal Terpadu Pulogebang Umbul Gunawan. Umbul mengikuti kegiatan Djarot yang blusukan selama 30 menit di Terminal Pulogebang. "Instruksi penting dari Wakil Gubernur DKI ialah percepatan pengoperasian terminal," kata Umbul kepada Tempo di kantornya, Selasa, 6 Januari 2015. (Baca: Djarot Sedot Sampah Tahun Baru Pakai 'Vacuum Cleaner')

    Umbul mengatakan, sejatinya, Terminal Pulogebang sudah siap menampung arus penumpang. Sebab, dia mengklaim pembangunan fisik terminal itu sudah 99 persen rampung. Namun pengoperasian terminal masih terkendala akses jalan tol yang digarap Kementerian Pekerjaan Umum. "Padahal jalan tol itu merupakan pintu utama keluar-masuk terminal ini," kata Umbul.

    Terminal yang mulai dibangun pada 2010 tersebut menghabiskan dana sekitar Rp 600 miliar. Umbul mengklaim proyek pembangunan fisik Terminal Pulogebang sudah selesai sejak 2014. Namun beberapa bagian bangunan terminal itu masih belum sempurna. Salah satunya, aula di lantai dasar bangunan utama terminal. (Baca: Tahun Baru, Wagub Djarot Sempat 'Goyang Oplosan')

    Ruangan seluas empat kali lapangan basket ini belum terpasang keramik. Lantainya masih dilapisi beton kasar yang berpasir. Lampu penerangan juga tak ada, sehingga terkesan gelap dan tak terawat. (Baca juga: Djarot Makan Bareng Keluarga: Mana Rawonnya?)

    Suyanto menilai sepinya Terminal Pulogebang disebabkan oleh pemerintah tak tegas menutup izin operasional bus luar kota di Terminal Pulogadung dan Rawamangun. Kondisi itu, ujar dia, membuat perusahaan otobus lebih memilih terminal yang ramai didatangi calon penumpang. "Bila terminal dalam kota itu sudah ditutup, otomatis, penumpang akan bergeser ke Terminal Pulogebang," kata Suyanto.

    RAYMUNDUS RIKANG

    Topik terhangat:

    AirAsia | Banjir | Natal dan Tahun Baru | ISIS | Susi Pudjiastuti

    Berita terpopuler lainnya:
    Adian Napitupulu: Wiranto Danai 'Di Balik 98'?
    Apa Kata Gerrard Setelah Jadi Pahlawan Liverpool?
    Pemandu di Bus Wisata Curhat 'Kejamnya' Ahok


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.