Tawuran Manggarai Tak Kunjung Usai, Ini Sebabnya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang warga mempersiapkan senapan angin saat terlibat bentrok antar warga Maggarai dengan warga Tambak di kawasan jalan Tambak, Manggarai, Jakarta, Selatan, 30 November 2014. TEMPO/M IQBAL ICHSAN

    Seorang warga mempersiapkan senapan angin saat terlibat bentrok antar warga Maggarai dengan warga Tambak di kawasan jalan Tambak, Manggarai, Jakarta, Selatan, 30 November 2014. TEMPO/M IQBAL ICHSAN

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian menyatakan penyebab tawuran yang sering terjadi di Jalan Tambak, Manggarai, Jakarta Selatan, karena kondisi sosial dan ekonomi warganya yang hidup di dalam kondisi yang kumuh dan padat. (Baca: 200 Warga Manggarai dan Tambak Tawuran Lagi)

    "Itu memicu mereka melakukan tawuran," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Metro Jakarta Pusat Ajun Komisaris Besar Tatan Dirsan kepada Tempo, Selasa, 6 Januari 2015. Mereka, menurut dia, seolah mencari pelarian atas kehidupan mereka yang tak layak dengan berbuat keributan.

    Karenanya, kata Tatan, untuk menyelesaikan persoalan tersebut pihaknya terus berkoordinasi dengan instansi terkait. "Terutama pemerintah daerah, seperti kecamatan dan kelurahan," ujarnya. Mereka harus berperan dalam persoalan sosial dan ekonomi yang dihadapi warganya. Selain, anggota tetap melakukan pengamanan di lokasi.

    Pemerintah daerah, menurut dia, harus terus mendampingi para warga agar tak tersulut kembali melakukan tawuran di jalan. "Itu telah kami laksanakan. Dua minggu ini kondisi aman," kata Tatan. (Baca: Aktor Tawuran di Tambak Ditangkap)

    Selain itu, Tatan menegaskan bahwa pihaknya tak akan segan menindak siapa pun yang memicu terjadinya tawuran. "Kami pasti akan menindak orang yang terbukti melakukan pidana," kata dia.

    Pada kejadian tawuran 25 Desember 2014 lalu, Tatan menyebutkan pihaknya menangkap sebanyak 8 orang warga yang diduga menjadi provokator. "4 orang jadi tersangka dan diamankan," kata dia. Sisanya dilepas karena tak cukup bukti.

    Dia mengatakan rata-rata tersangka masih berusia muda. Mereka pun kebanyakan adalah pengangguran yang putus sekolah. "Salah satu di antara keempatnya masih di bawah 17 tahun," kata Tatan. Mereka dikenakan Pasal 214 KUHP tentang melawan petugas dan Pasal 170 KUHP tentang kekerasan di muka umum.

    NINIS CHAIRUNNISA

    Baca Berita Lainnya:
    Surat Cinta Menteri Jonan untuk Para Pilot
    Risma Tak Percaya Peringatan Dini Amerika Serikat

    Kaya Raya, Lima Pesohor Bangkrut dalam Semalam

    Turis Jepang Diperkosa Lima Pemuda India

    'Jauhi Hotel dan Bank Terkait Amerika di Surabaya'


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.