Bagaimana Ahok Mesti Perlakukan Pengemis Intimidatif?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengemis berburu sedekah usai salat Id, di Makassar, Sulsel, 28 Juli 2014. TEMPO/Iqbal Lubis

    Pengemis berburu sedekah usai salat Id, di Makassar, Sulsel, 28 Juli 2014. TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Jakarta - Guru besar psikologi sosial Universitas Gadjah Mada, Koentjoro, mengatakan penanganan terhadap penyandang masalah kesejahteraan sosial, seperti pengamen dan gelandangan yang meminta-minta dengan cara memaksa, di Ibu Kota, perlu disertai tindakan tegas. Menurut dia, cara yang ditempuh oleh orang-orang itu sama seperti preman.

    "Hukum di Indonesia mengatur hal-hal semacam itu. Daripada cuma tangkap, masukkan ke panti sosial kemudian dilepaskan lagi, lebih baik penjarakan sekalian biar ada efek jera," kata Koentjoro, Senin, 12 Januari 2015.

    Koentjoro melihat fenomena banyaknya pengemis intimidatif ini sebagai efek gaya hidup yang keras di kota besar. "Mereka yang punya pengalaman dengan kekerasan dapat bertahan hidup, akhirnya menjadi terlembagakan," katanya. Intimidasi yang dilakukan, kata Koentjoro, menjadi tameng sekaligus alat untuk bertahan hidup.

    Koentjoro juga melihat peran media yang sangat besar. "Media menampilkan apa yang akhirya diikuti oleh mereka," katanya. Tak adanya pendampingan yang baik membuat tren ini dipahami secara keliru, dan apa yang dijauhi masyarakat justru dilakukan karena dalam media digambarkan orang yang melakukan itu adalah sosok pahlawan atau jagoan. "Misalnya adegan koboi yang minum-minuman keras," katanya.

    Salah satu pemicu tingginya angka intimidasi yang dilakukan oleh pengamen di jalanan adalah minuman keras dan obat-obatan stimulan, seperti obat batuk. "Mereka akhirnya terpisah dari kehidupan nyata dan rasa empati sebagai manusia karena terbawa pengaruh miras dan obat-obatan itu," katanya. Karena itu, Koentjoro mendukung tindakan tegas bagi pengamen yang melakukan intimidasi atau kekerasan.

    Memanipulasi lingkungan akan efektif bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial di jalanan yang berusia remaja, tetapi tak efektif bagi mereka yang dewasa. "Kalau yang anak-anak bisa dengan mengubah pola parenting dan manipulasi lingkungan," kata dia. Tetapi untuk penyandang masalah kesejahteraan sosial di jalanan yang dewasa, Koentjoro menyarankan agar pemerintah memberikan sarana penyaluran energi yang menghasilkan uang. "Kalau hobi berantem ya dilatih aja jadi petinju," kata dia.

    DINI PRAMITA

    Topik Terhangat:
    AirAsia
    | Calon Kapolri | Charlie Hebdo | Menteri Jonan | Susi Pudjiastuti

    Berita terpopuler lainnya:
    Menteri Andrinof: Jepang Cuma Menggertak

    Lima Jenderal Ini Disebut Punya Rekening Gendut
    Beredar Foto Mesra, Abraham: Itu Gosip


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.