Siswa SMP Bunuh Diri, Mengapa Sekolah Tutup Mulut?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP/Amr Nabil

    AP/Amr Nabil

    TEMPO.COJakarta - Manajemen SMP Global Islamic School, Condet, Jakarta Timur, tidak bersedia memberi keterangan terkait dengan kasus bunuh diri yang dilakukan siswanya, Arangga Arman Kusuma, 14 tahun. Juru bicara sekolah, Gandhi, mengatakan manajemen harus menjaga privasi keluarga. "Keluarga Rangga yang meminta sekolah untuk tak memberikan info apa pun kepada pihak luar," kata Gandhi saat ditemui di sekolah, Senin, 19 Januari 2014. 
     
    Selain itu, ujar Gandhi, manajemen juga ingin menjaga dan melindungi siswa-siswa lain yang syok mendengar kabar kematian Rangga yang tragis. Saat ini sekolah lebih fokus memberi pendampingan kepada murid-murid dan orang tua agar kasus serupa tak terulang. "Lebih dari seribu anak di sini yang harus dilindungi," tutur Gandhi.

    Rangga ditemukan tewas gantung diri pada 14 Januari 2015 di kediaman neneknya,  Pancoran, Jakarta Selatan. Rangga tinggal bersama nenek dan tantenya setelah orang tuanya bercerai. Diduga, bocah itu mengalami depresi sehingga nekad mengakhiri hidup dengan gantung diri (Baca: Siswa SMP Bunuh Diri, Psikolog: Banyak Pemicunya)
     
    Jihan, 14 tahun, teman sekolah Rangga, mengatakan almarhum dikenal sebagai pribadi yang ramah. Rangga tidak segan-segan bertegur sapa dengan siswa yang berbeda kelas dengannya.  "Rangga itu suka main sama teman-teman lain, sering bercanda juga," ujar Jihan.
     
    Jihan pernah sekelas dengan Rangga di kelas VII. Saat kenaikan, Jihan masuk kelas VIII C, sedangkan Rangga kelas VIII B. Ruang kelas mereka bersebelahan, terletak di lantai dua gedung SMP tersebut. Menurut Jihan, Rangga tak pernah pilih-pilih teman. "Dia masih main sama saya walaupun sudah beda kelas, tutur Jihan.

    Icha, 14 tahun, teman sekelas Jihan, mengaku pernah satu kelas dengan Rangga saat masih duduk di sekolah dasar. Menurut dia, Rangga hobi membaca komik manga sejak SD.

    YOLANDA RYAN ARMINDYA 



    Berita lain:
    Harga BBM Turun, Organda Tawarkan Empat Opsi
    Ahok Bongkar Dana Siluman, Fitra: Itu 'Bisikan' 
    Hendak Tawuran, Tiga Orang di Depok Ditangkap  




     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.