Gara-gara Pungli, Ahok Pecat 9 Kepala Sekolah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah Guru guru melakukan foto bersama dengan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) usai  apel besar Komitmen Aplikasi Deklarasi Sekolah Bersih, Damai dan Anti Korupsi se-Jakarta di Taman Monumen Nasional (Monas), Jakarta, 30 Desember 2014. Acara yang dihadiri oleh ratusan perwakilan sekolah dari wilayah Jakarta dan, Kepulauan Seribu. TEMPO/Dasril Roszandi

    Sejumlah Guru guru melakukan foto bersama dengan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) usai apel besar Komitmen Aplikasi Deklarasi Sekolah Bersih, Damai dan Anti Korupsi se-Jakarta di Taman Monumen Nasional (Monas), Jakarta, 30 Desember 2014. Acara yang dihadiri oleh ratusan perwakilan sekolah dari wilayah Jakarta dan, Kepulauan Seribu. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.COJakarta - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan sembilan kepala sekolah yang diduga terlibat pungutan liar dipecat dari jabatannya. Alasannya, tindakan mereka mencoreng dunia pendidikan yang sudah mulai berbenah diri. ”Pungutan liar berlawanan dengan semangat antikorupsi,” ujar Basuki di Balai Kota, Jumat, 23 Januari 2015.

    Aksi mengutip pungutan liar tersebut terdeteksi oleh Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Sembilan kepala sekolah itu bertugas di SMAN 41 Jakarta Utara, SMAN 79 Jakarta Selatan, SDN Tebet Barat 08 Jakarta Selatan, SDN Karang Anyar 08, SDN Malaka Jaya 05 Pagi, SDN Dukuh 09 Pagi, SDN Palmerah 03 Pagi, SDN Margasari 09, dan SDN Dukuh. Mereka  dipecat karena memungut uang dengan berbagai alasan.

    Menurut Ahok, aksi pungutan liar itu bertentangan dengan semangat pemberantasan korupsi. Terlebih, di hadapan Ahok, ribuan guru di Jakarta sudah menandatangani pakta integritas untuk mewujudkan sekolah damai dan antikorupsi pada 30 Desember 2014. (Baca: Menteri Anies: Banyak Pungli di Sekolah di Daerah)

    Dia mengatakan guru merupakan tonggak perubahan untuk mencetak generasi yang lebih baik. Guru punya peran mengemban tugas sekaligus menjadi teladan bagi para siswa. ”Kalau gurunya tak beres, bagaimana anak muridnya bisa berlaku baik?” ujarnya. ”Kalau begitu namanya munafik." (Baca: Laporan ke Ombudsman, Pungli Pendidikan Terbanyak

    Adapun Muryati, 55 tahun, Kepala SDN 03 Pagi Palmerah, mengatakan tak tahu soal pemecatan oleh Basuki. Ia tak menjelaskan detail ihwal dugaan pungutan di SDN 03 Pagi Palmerah. ”Saya dimutasi ke sini pada 12 Januari 2015, jadi tidak tahu persis soal pungli itu,” kata Muryati di ruang kepala sekolah sambil mencari ember untuk menadahkan tetesan air dari dinding atas yang terlihat retak di kantornya, Jumat, 23 Januari 2015. (Baca: Begini Modus Pungli Sekolah di Jakarta Utara)

    Menurut dia, kepala sekolah sebelumnya yang tahu persis dugaan pungli di sekolah tempat ia bernaung saat ini. ”Kepala sekolah yang lama sudah mutasi ke Cengkareng,” kata Muryati.

    LINDA HAIRANI | DINI PRAMITA

    Topik terhangat:
    Budi Gunawan|Eksekusi Mati|Harga BBM Turun|AirAsia|Dana Siluman Ahok

    Terpopuler:
    PDIP Diserang Balik: KPK Pernah Panggil Megawati  
    Terkuak, Alasan Ali Turun Sebelum Tabrakan Maut
    Tanpa Izin Mega, Hasto Kristiyanto Serang KPK


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Fahri Hamzah Dari PKS Ke Partai Gelora Indonesia

    Partai Gelora Indonesia didirikan di antaranya oleh Fahri Hamzah dan Anis Matta pada, 28 Oktober 2019. Beberapa tokoh politik lain ikut bergabung.