Antisipasi Banjir, Kota Bekasi Siagakan 38 Pompa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga melintasi banjir di Perumahan Bumi Nasio Indah, Kawasan Jatiasih,Bekasi Kamis (18/4). Tempo/Dian Triyuli Handoko

    Warga melintasi banjir di Perumahan Bumi Nasio Indah, Kawasan Jatiasih,Bekasi Kamis (18/4). Tempo/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO,  Bekasi - Pemerintah Kota Bekasi menyiapkan 38 unit pompa air untuk mengantisipasi banjir yang puncaknya sudah dimulai pekan ini. "Dapat dioperasikan setiap saat," kata Kepala Bidang Tata Air Dinas Bina Marga dan Tata Air Kota Bekasi, Dicky Irawan, Ahad, 25 Januari 2015.

    Ia mengatakan, dua pompa baru berukuran 1.500 liter perdetik sudah terpasang di pintu air Kali Rawa Tembaga. Pompa itu menambah dua pompa yang sudah terpasang sebelumnya. Pompa tersebut untuk meminimalisasi banjir di Kayuringin, Bekasi Selatan. (baca: Banjir Bekasi, Kompleks Dosen IKIP Tenggelam)

    Dua unit pompa tambahan di daerah Kartini, Bekasi Timur, dengan kapasitas 250 liter perdetik. Dicky menyebutkan, 32 pompa juga sudah di 12 kecamatan yang rawan banjir. Pompa tersebut mempunyai kapasitas yang variasi, mulai dari 150 liter perdetik hingga berkapasitas 450 liter perdetik.

    Sejumlah wilayah yang rawan banjir antara lain, Perumahan Pondok Gede Permai (PGP), Kemang IFI, Pondok Mitra Lestari, Villa Nusa Indah, Bumi Nasio, Dosen IKIP. "Daerah tersebut langganan banjir," kata Dicky.

    Dicky menyebutkan, hingga saat ini pihaknya masih mencatat sebanyak 49 titik banjir. Sejumlah proyek saluran diyakini mampu mengurangi titik banjir. Setahun ia menargetkan dapat mengurangi 30 persen titik banjir tersebut. "Terutama pembuatan poder, dan normalisasi saluran," kata dia.

    Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi, mengatakan salah satu kegiatan untuk penanggulangan banjir yakni membersihkan bangunan liar di bantaran kali. "Tadi pagi, kami bersihkan bangunan liar di Kali Baru, Pondok Melati," kata Rahmat.

    Di kali tersebut erdapat sembilan bangunan liar yang berdiri di bibir kali. Akibat adanya bangunan tersebut saluran menjadi sempit, dan kerap menyebabkan banjir. Saluran itu melintasi empat kelurahan yaitu Jati Melati, Jati Murni, Jati Rahayu, dan Jati Warna. "Dibongkar untuk memudahkan normalisasi," kata Camat Pondok Melati, Roro Yoewati.

    ADI WARSONO
     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.