Pemakai Heroin di Indonesia Menurun

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto narkoba jenis Heroine saat dilihat melalui mikroskop. Huffingtonpost.com

    Foto narkoba jenis Heroine saat dilihat melalui mikroskop. Huffingtonpost.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), Inang Winarso, mengatakan jumlah pengguna narkoba jenis heroin di Indonesia menurun. Menurut dia, selama enam tahun terakhir, jumlah pemakai heroin berkurang lebih dari separuh.

    "Pada 2008 ada sekitar 25 ribu pemakai heroin, pada 2014 menjadi 12 ribu," katanya saat ditemui di kantornya, Selasa, 27 Januari 2015. Dari jumlah itu, kata dia, tak lebih dari 3 ribu orang berada di Jakarta.

    Inang mengatakan penurunan ini disebabkan karena kampanye tentang bahaya narkotika mulai efektif pada kurun waktu tersebut. Banyak pemakai yang berhenti menggunakan heroin lantaran tahu bahaya yang ditimbulkan. Sebagian dari mereka mengikuti rehabilitasi dengan terapi metadon yang disediakan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan.

    Metadon merupakan golongan narkotik jenis II yang digunakan untuk menurunkan tingkat ketergantungan pasien terhadap heroin. Pasien mengkonsumsi obat metadon dengan dosis tertentu, sampai ia mencapai titik mengurangi ketergantungan dan lepas sama sekali dari ketergantungan. Inang mengatakan, pecandu yang melakukan terapi ini, bisa sembuh dari ketergantungannya dalam waktu 2-3 tahun. "Ada waktunya dosisnya makin dikurangi sehingga sembuh," Inang berujar. (Seperti apa terapi Metadon, baca selengkapnya di sini)

    PKBI terlibat dalam kegiatan ini. Lembaga ini ikut memberikan konseling kepada pecandu agar mau berhenti. Bagi pemakai yang tak mau melepaskan ketergantungannya, PKBI membagikan jarum suntik steril agar mereka tak tertular atau menularkan penyakit, seperti HIV. Setiap hari, ada 12 ribu paket jarum suntik yang dibagikan di seluruh Indonesia. Pembagian jarum suntik ini untuk mencegah dampak lebih buruk. Sebab, pecandu biasanya menggunakan jarum suntik bekas atau jarum suntik secara bergantian. Ini berbahaya karena dapat menyebarkan penyakit HIV/AIDS. (Baca: KBI Tolak Eksekusi Mati Narapidana Narkoba)

    NUR ALFIYAH

    Berita Lainnya:

    BNN Musnahkan 862 Kg Sabu Senilai Rp 1,6 Triliun
    Dahsyatnya Efek LSD, Narkoba Tabrakan Pondok Indah
    BNN: Indonesia Darurat Narkoba
    Polisi Ungkap Peredaran Sabu dalam Cartridge Printer


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.