Kronologi Bus Polisi Tabrak Fitriani hingga Tewas  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas kepolsian mengatur lalulintas saat petugas mengevakuasi bus Transjakarta bernomor polisi B 7741 IS yang terbakar di jalan Sudirman, Kawasan Semanggi, Jakarta, Senin (05/11). TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Petugas kepolsian mengatur lalulintas saat petugas mengevakuasi bus Transjakarta bernomor polisi B 7741 IS yang terbakar di jalan Sudirman, Kawasan Semanggi, Jakarta, Senin (05/11). TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Ahmad Guntur, 53 tahun, merupakan korban tabrak lari polisi di terowongan Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Senin, 2 Februari 2015. Dalam kecelakaan itu, putrinya, Layla Fitriani Ahmad, 15 tahun, tewas.

    Guntur menceritakan kronologi kejadian nahas itu. Saat itu dia sedang mengantar pulang putrinya dari Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 15, Kebayoran Baru. Mengendarai sepeda motor Honda Supra Fit dengan nomor polisi B-1679-SJZ, Guntur pun melaju dari Jalan Mataram menuju rumahnya di Radio Dalam, Jakarta Selatan.

    Sepeda motor itu melaju pelan memasuki terowongan dan berada di kiri jalan. Saat berada di tanjakan setelah terowongan, Guntur mendengar suara sirine dan melihat iring-iringan bus polisi dari kaca spionnya. Bus pertama melaju dengan kencang. Bus kedua, yang ketinggalan jauh, kata dia, melaju lebih kencang dibanding bus pertama.

    "Saat di tanjakan, mobil kedua itu menabrak motor saya dan langsung kabur," katanya di rumah duka, Jalan Haji Salim I Nomor 3A, Radio Dalam, Senin malam, 2 Februari 2015. (Baca: 'Polisi Masa Gitu', Tabrak Anak Tak Tanggung Jawab)

    Guntur tersungkur bersama Fitriani. Helmnya dan helm putrinya copot. Dia lalu memegangi putri kesayangannya itu. Kepala Fitriani terluka dan bersimbah darah. Begitu pula telinganya.

    Dalam posisi tertelungkup, Guntur meminta tolong. Bus polisi ketiga berhenti. Di bus itu, kata dia, ada polisi kenalannya yang tinggal di Radio Dalam. "Saya minta tolong. Saya bilang, 'Lo, kan, gue kenal, tolongin anak gue'," katanya.

    Menggunakan bus polisi ketiga, Guntur dan Fitriani dibawa ke Puskesmas Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Saat itu Fitriani masih pingsan. Mereka hanya diperiksa sepuluh menit, lalu dilarikan ke Rumah Sakit Fatmawati untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif. (Baca: Tabrak Fitriani Hingga Tewas, Bus Polisi Itu Kabur)

    Guntur dan Fitriani sampai di RS Fatmawati sekitar pukul 16.00 WIB. Mereka segera dibawa ke ruang instalasi gawat darurat. Tangan Guntur yang terluka dibebat perban. Namun putri kesayangannya itu mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 16.30 WIB. 

    "Almarhumah akan dimakamkan di di Tempat Pemakaman Umum Kamboja, Radio Dalam, sekitar pukul 11.00 WIB," kata Guntur.

    HUSSEIN ABRI YUSUF


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Fahri Hamzah Dari PKS Ke Partai Gelora Indonesia

    Partai Gelora Indonesia didirikan di antaranya oleh Fahri Hamzah dan Anis Matta pada, 28 Oktober 2019. Beberapa tokoh politik lain ikut bergabung.