Lalu Lintas DKI Terburuk Sedunia, Ahok: Emang Iya!  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pengendara sepeda motor memasuki jalur Transjakarta di koridor VI jalan Buncit-Mampang Prapatan, Jakarta, (2/8). TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Sejumlah pengendara sepeda motor memasuki jalur Transjakarta di koridor VI jalan Buncit-Mampang Prapatan, Jakarta, (2/8). TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengakui bahwa Jakarta, jika dibandingkan ibu kota negara lain, merupakan kota dengan tingkat kemacetan lalu lintas terparah. "Lha, emang iya, kan?" ujarnya di Balai Kota, Rabu, 4 Februari 2015.

    Hari ini sejumlah media massa internasional merilis hasil penelitian lalu lintas yang dilakukan oleh produsen oli Castrol. Menurut indeks Stop-Start Magnatec Castrol, rata-rata terdapat 33.240 kali proses berhenti-jalan per tahun di Jakarta. Jika dibandingkan dengan kota lain, indeks stop-start di Jakarta menempati urutan pertama.

    Indeks ini mengacu terhadap data navigasi pengguna Tom Tom, mesin GPS, untuk menghitung jumlah berhenti dan jalan yang dibuat setiap kilometer. Jumlah tersebut lalu dikalikan dengan jarak rata-rata yang ditempuh setiap tahunnya di 78 negara.

    Menanggapi penelitian itu, Ahok menyebutkan Jakarta wajar menjadi kota dengan kemacetan lalu lintas terparah. "Soalnya sistem transportasi berbasis rel di sini masih kurang," ujarnya. "Tokyo di Jepang saja yang setiap kotanya punya transportasi bagus masih macet parah kok, apalagi Jakarta," ujarnya.

    Dia mengatakan, warga Jakarta harus bersabar antara 30-40 tahun lagi menunggu masalah kemacetan tuntas. "Makanya kita lagi bangun transportasi berbasis rel mulai sekarang, setidaknya bisa membantu mengurangi masalah ini sedikit demi sedikit," kata dia. "Warga memang harus lebih banyak bersabar."

    Adapun Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Benjamin Bukit mengatakan pemerintah memang tak mampu menekan laju pertumbuhan kendaraan bermotor, terutama kendaraan pribadi. "Indeks pembangunan jalan kita juga masih sangat rendah, hanya 0,01 persen pertahun."

    Benjamin mengatakan, satu-satunya cara mengatasi masalah kemacetan adalah membangun sistem transportasi terintegrasi yang baik. "Itu yang sedang kita push, kita sedang membangun fondasi sistem itu sekarang," ujarnya.

    PRAGA UTAMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.