Djarot Ingin Melarang Mobil Pribadi ke Bandara  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Djarot Saiful Hidayat. TEMPO/Tony Hartawan

    Djarot Saiful Hidayat. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengatakan untuk mengurai kemacetan di Ibu Kota salah satu hal yang harus dilakukan ialah mengembangkan transportasi massal.

    Untuk mendukung sarana transportasi massal, Pemerintah Provinsi DKI, kata Djarot, telah berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk mengembangkan jalur kereta api dari Jakarta menuju Bandara Soekarno-Hatta. "Dengan cara seperti itu, maka nanti dari bandara ke Jakarta tidak boleh lagi menggunakan mobil pribadi," Djarot berujar di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu, 4 Februari 2015.

    Sedangkan untuk Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway, Djarot mengimbuhkan, seharusnya terintegrasi dengan bus Transjakarta. "Jika terintegrasi justru tidak akan menimbulkan kemacetan," dia berujar.

    Djarot optimistis jika transportasi publik sudah bagus, aman, nyaman, dan tarifnya terjangkau, maka secara otomatis penggunaan mobil pribadi akan berkurang.

    Adapun hasil penelitian lalu lintas oleh produsen oli Castrol menyatakan Jakarta sebagai kota termacet di dunia. Menurut indeks Stop-Start Magnatec Castrol, rata-rata terdapat 33.240 kali proses berhenti-jalan per tahun di Jakarta.

    Menurut indeks Stop-Start Magnatec Castrol, rata-rata terdapat 33.240 kali proses berhenti-jalan per tahun di Jakarta. Indeks ini mengacu pada data navigasi pengguna Tom Tom.

    Ini adalah mesin GPS, untuk menghitung jumlah berhenti dan jalan yang dibuat setiap kilometer. Jumlah tersebut lalu dikalikan dengan jarak rata-rata yang ditempuh setiap tahun di 78 negara.

    GANGSAR PARIKESIT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.