Djarot: Apa Ada Kota Besar Bebas Macet?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, berkunjung ke kantor redaksi Tempo, Kebayoran, Jakarta, 5 Desember 2014. Kedatangan Djarot Saiful ini untuk berdiskusi mengenai permasalahan yang dihadapi Jakarta sebelum ia resmi dilantik. TEMPO/Gunawan Wicaksono

    Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, berkunjung ke kantor redaksi Tempo, Kebayoran, Jakarta, 5 Desember 2014. Kedatangan Djarot Saiful ini untuk berdiskusi mengenai permasalahan yang dihadapi Jakarta sebelum ia resmi dilantik. TEMPO/Gunawan Wicaksono

    TEMPO.COJakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengatakan tak ada kota besar di dunia yang bebas macet. Menurut dia, semua kota besar di dunia pasti mengalami masalah kemacetan.

    "Saya tanya, apa ada kota besar yang bebas macet? Tak bisa kota besar bebas macet," ujarnya di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu, 4 Februari 2015.

    Djarot beralasan, kemacetan di kota besar justru menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi di kota tersebut terus meningkat. Kalau tidak ada kemacetan sama sekali di kota besar, kata dia, kemungkinan kota itu tidak memberikan kontribusi ekonomi.

    Sejumlah media massa internasional merilis hasil penelitian lalu lintas yang dilakukan oleh produsen oli, Castrol. Menurut indeks Stop-Start Magnatec Castrol, rata-rata terdapat 33.240 kali proses berhenti-jalan per tahun di Jakarta. Jika dibandingkan dengan kota lain, indeks stop-start di Jakarta menempati urutan pertama.

    Menurut indeks Stop-Start Magnatec Castrol, rata-rata terdapat 33.240 kali proses berhenti-jalan per tahun di Jakarta. Indeks ini mengacu pada data navigasi pengguna Tom Tom, mesin GPS, untuk menghitung jumlah berhenti dan jalan yang dibuat setiap kilometer. Jumlah tersebut lalu dikalikan dengan jarak rata-rata yang ditempuh setiap tahun di 78 negara.

    Kota besar yang tak mengalami kemacetan, kata Djarot, biasanya merupakan kota khusus pemerintahan. "Di Den Haag, Belanda, itu hanya kota pemerintahan sehingga tidak macet," Djarot berujar. Pemerintah DKI, Djarot menambahkan, hanya bisa mengurangi kemacetan. "Kami hanya bisa mengurangi kemacetan terutama di ruas-ruas jalan."

    GANGSAR PARIKESIT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Fahri Hamzah Dari PKS Ke Partai Gelora Indonesia

    Partai Gelora Indonesia didirikan di antaranya oleh Fahri Hamzah dan Anis Matta pada, 28 Oktober 2019. Beberapa tokoh politik lain ikut bergabung.