Kisah Pedagang Baju Bekas di Senen dan Kebakaran

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah calon pembeli memilih dagangan yang dijual oleh para pedagang Blok III Pasar Senen di badan jalan di sekitar Pasar Senen, Jakarta, Senin (28/4). Api menghanguskan dua pertiga pasar. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    Sejumlah calon pembeli memilih dagangan yang dijual oleh para pedagang Blok III Pasar Senen di badan jalan di sekitar Pasar Senen, Jakarta, Senin (28/4). Api menghanguskan dua pertiga pasar. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Teriakan para pedagang baju bekas menyambut sebagian besar pengunjung yang nampak kebingungan mencari pintu masuk lantai dua Pasar Senen, Jakarta Pusat. Baju-baju bekas menggunung nampak dijajakan di sana. Harganya sangat murah, Rp 10.000 sudah dapat dua. Bahkan, ada handuk yang dijual Rp 2.000 saja.

    "Kami yang di selasar lantai dasar ini adalah korban kebakaran waktu itu," kata seorang pedagang bernama Togi, 37 tahun, Minggu, 8 Februari 2015.

    Togi masih menunggu lapak pengganti yang dijanjikan untuk dapat beroperasi. Sembari menunggu, Togi berjualan ala kadarnya. "Lumayan ngabisin stok sekaligus menambah pemasukan," kata dia.

    Sebelumnya, dia bersama pedagang pasar Blok A lain yang kiosnya terbakar pada April 2014 berjualan di luar pasar sehingga membuat lalu-lintas tersendat. Akhirnya, dibangunlah kios-kios baru tepat di sebelah pasar. Pantauan Tempo, kios yang masing-masing berukuran 2x3 meter itu, sudah selesai dibangun.

    "Masih menunggu pengumuman kapan undian kuncinya," kata dia.

    Menurut Eman, 60 tahun, penjaga toilet di gedung kios yang baru, pembangunan masih akan disempurnakan untuk listrik dan ventilasi udara agar tak pengap. Memang benar, belum ada alur keluar-masuk udara yang layak. Bayangkan saja jika gedung dua lantai itu dipenuhi sesak dengan pedagang, pengunjung, dan kumpulan baju bekas, semua yang datang bisa habis napasnya.

    Togi mengaku tak tahu ada berapa total pedagang yang akan direlokasi. Namun, dia menunggu janji pemda untuk memindahkan para pedagang. Sementara itu, Togi dan teman-teman pedagangnya tetap ambil stok dagangan mereka di gudang tiap Kamis.

    "Kami tetap ambil barang 'baru' supaya alur jual-beli tetap muter," kata dia.

    YOLANDA RYAN ARMINDYA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.