Banjir, Ahok Mengadu ke Jokowi Habis-habisan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden, Jusuf Kalla (kiri), bersama Gubernur DKI, Ahok, mengantar Jokowi di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, 12 Desember 2014. TEMPO/Subekti.

    Wakil Presiden, Jusuf Kalla (kiri), bersama Gubernur DKI, Ahok, mengantar Jokowi di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, 12 Desember 2014. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO , Jakarta - Presiden Joko Widodo memanggil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok ke Istana Negara, Selasa, 10 Februari 2015. Jokowi meminta penjelasan dari Ahok ihwal banjir yang mengepung Ibu Kota, termasuk kawasan Istana juga tergenang Senin kemarin.

    Ahok mengungkapkan, Jokowi sempat bingung dengan banjir di Ibu Kota. Jokowi merasa kejadian 2013 lalu kembali terulang dengan penyebab yang beda. " Dulu kenapa bisa tenggelam karena KBB (kanal banjir barat) jebol. Akhirnya waduk Pluit naik sampai 1,45 centimeter. Makanya beliau minta waktu itu dinaikkan statusnya," ucap Ahok di Balai Kota.

    Beda dengan banjir sekarang, Ahok menjelaskan ke Jokowi, genangan ada karena pompa air Waduk Pluit mati. Pompa mati karena Perusahaan Listrik Negara mematikan arus listrik. Alasan PLN mematikan arus karena takut menimbulkan korban, sebab air merupakan konduktor listrik. "Kita enggak ngerti pikiran PLN seperti apa."

    Ahok pun meminta Jokowi untuk memerintahkan PLN menghidupkan kembali listrik di Waduk Pluit, termasuk seluruh wilayah Jakarta Utara. Jika diputus lagi, menurut dia, Jakarta bakal tenggelam. "Tidak ada toleransi putus listrik. Enggak boleh putus karena ini urat nadi kita. Kan dari selatan turun. Jadi baskom atau waduk ini harus dipompa. Kalau Anda matikan berapa jam saja, rusak Jakarta. Jakarta ini kayak baskom."

    Ahok mengatakan, dampak banjir bisa melumpuhkan perekonomian. Ia pun meminta maaf kepada masyarakat dan pelaku usaha karena sudah menimbulkan kerugaian. Namun, ia akan tetap berusaha mengangulangi banjir. Hasilnya: "Titik-titik banjir juga sudah berkurang dibandingkan dulu," ucap dia.

    Mantan Bupati Belitung Timur itu juga emoh menaikan status banjir dari siaga ke tanggap darurat. Karena, menurut dia, statusnya belum tanggap darurat. "Orang mengatakan kalau Istana tenggelam, baru tanggap darurat. Istana enggak mungkin terendam. Selama Waduk Pluit itu turun," kata dia.

    Ahok mengacuhkan soal peringatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika yang menyebutkan Jakarta bakal diguyur hujan dalam waktu sepuluh hari ke depan. "Eggak apa-apa hujan saja terus. Ini hujan terus dua hari kok. Kecuali zaman lu yang betul-betul hujannya 24 jam kali 10 hari. Itu susah." Yang penting bagi Ahok, PLN tidak mencabut arus listrik.

    ERWAN HERMAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.