PLN Prioritaskan Listrik untuk Hidupkan Pompa Air

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga melintasi pipa saluran pompa air pada peresmian Rumah Pompa Air Waduk Pluit, di Penjaringan, Jakarta (27/3). Peresmian rumah pompa Waduk Pluit dengan tiga pompa air baru berkekuatan 15 meter kubik per detik.  ANTARA/Wahyu Putro

    Warga melintasi pipa saluran pompa air pada peresmian Rumah Pompa Air Waduk Pluit, di Penjaringan, Jakarta (27/3). Peresmian rumah pompa Waduk Pluit dengan tiga pompa air baru berkekuatan 15 meter kubik per detik. ANTARA/Wahyu Putro

    TEMPO.CO , Jakarta - PT Perusahaan Listrik Negara Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang memprioritaskan listrik ke rumah-rumah pompa air untuk tidak padam. Menurut Manajer Bidang Komunikasi Hukum dan Administrasi PLN Disjaya, Koesdianto mengatakan pihaknya mengupayakan semaksimal mungkin agar rumah pompa tetap dialiri listrik.

    "Terdapat 38 pompa air di wilayah Jakarta yang dipantau oleh PLN dan diupayakan semaksimal mungkin agar rumah-rumah pompa tersebut tetap dialiri listrik," ujar Koesdianto dalam keterangan tertulis, Selasa, 10 Februari 2015.

    Koesdianto mengatakan apabila daerah sekitar lokasi waduk dan rumah pompa padam akibat banjir, PLN berupaya melakukan pengalihan beban. Selain itu PLN juga mengisolasi jaringan yang memasok gardu yang terendam, sehingga pasokan listrik untuk rumah pompa tetap terjaga.

    Selain memprioritaskan rumah pompa, PLN juha memastikan sejumlah layanan tetap dialiri listrik. Koesdianto menyebutkan antara lain rumah sakit, kantor-kantor pemerintahan, utilitas pelayanan umum.

    Hingga pukul 14.00 WIB terpantau masih 524 gardu distribusi yang dipadamkan demi keselamatan warga. Daerah-daerah yang padam antara lain Tanjung Priuk, Menteng, Teluk Naga, Cikupa, Cempaka Putih, Marunda, Cengkareng, Bandengan, Kebon Jeruk, Jatinegara, Bintaro, Cikokol, dan Bulungan.


    Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Tata Air DKI Jakarta Agus Priyono menjelaskan, drainase yang ada saat ini hanya dirancang untuk menampung curah hujan antara 50 sampai 60 milimeter per jam. "Sebetulnya kapasitasnya cukup, tapi karena kemarin hujannya terus-terusan jadi enggak tertampung, padahal curah hujannya tidak terlalu besar."

    Idealnya, kata Agus, drainase di Jakarta berkapasitas 80 milimeter perjam. Apalagi, dia menjelaskan, saat ini curah hujan di Jakarta semakin meningkat karena pengaruh iklim. "Dulu memang curah hujan di Jakarta hanya berkisar antara 50-60 mm perjam, jadi kapasitasnya dibuat segitu."


    AYU PRIMA SANDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.