WN Suriah Selundupkan WNI ke Timur Tengah, Ini Modusnya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kampanye anti perdagangan manusia. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Kampanye anti perdagangan manusia. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Tangerang - Jamal Al Khadafi, 40 tahun, dan Laila Yunita, 40 tahun, pasangan suami-istri yang ditangkap karena menyelundupkan tiga wanita Indonesia ke luar negeri, melakukan banyak cara untuk menjebak para korban mereka.

    "Mengimingi-imingi korban pekerjaan dengan gaji yang besar sampai pemberian uang tunai di muka," kata Kepala Kantor Imigrasi Soekarno-Hatta Sutrisno, Selasa, 17 Februari 2015.

    Sutrisno menjelaskan, Jamal sebagai pemilik usaha ini berperan besar dalam proses perekrutan korban. Warga negara Suriah yang masuk ke Indonesia lantaran mencari suaka pada 2010 ini, kata Sutrisno, terjun langsung ke kampung-kampung atau pelosok daerah. Daerah yang kerap ia datangi adalah Sukabumi, Cianjur, dan Bandung.

    "Dia tak segan-segan memberi uang tunai Rp 5-10 juta kepada orang yang mau direkrut," katanya.

    Uang itu, kata Sutrisno, bisa jadi merupakan persekot pembayaran upah korban yang akan dikirim ke luar negeri sebagai tenaga kerja ilegal. Setelah direkrut, para korban diinapkan di tempat penampungan di Jakarta sambil menunggu pembuatan paspor.

    Tapi, uniknya, meski memegang paspor asli para korban, penyelundup ini menggunakan paspor orang lain untuk menerbangkan mereka ke luar negeri. Laila Yunita bertugas menemani para korban ini hingga menginap di luar negeri. Selanjutnya, Laila Yunita kembali ke Indonesia untuk mengambil visa para korban dari Kedutaan Uni Emirat Arab.

    "Karena kalau berangkat menggunakan visa Timur Tengah, mereka akan mendapatkan kesulitan di bandara," kata Kepala Seksi Pengawasan Kantor Imigrasi Soekarno-Hatta Ahmad Husny.

    Sebab, kata Husny, warga negara Indonesia yang hendak pergi ke Timur Tengah pasti dicurigai. "Kalau untuk bekerja sebagai TKI, kuotanya kan sudah ditutup," katanya.

    Upaya Laila membawa tiga wanita asal Cianjur, Sukabumi, dan Bandung Selatan pada 25 Januari 2015 lalu digagalkan petugas. Petugas Imigrasi mendapati tiga wanita itu menggunakan paspor orang lain. "Paspor asli mereka justru berada di dalam tas Laila," kata Husny.

    JONIANSYAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.