Ternyata, Ahok Biasa Sungkem Ibu Saat Imlek

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, Gubernur DKI Jakarta. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, Gubernur DKI Jakarta. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta- Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan tak memiliki tradisi khusus yang dilakukan saat Hari Raya Imlek. Ia berujar keluarganya memanfaatkan Hari Raya itu sebagai ajang silaturahmi, sungkem ibundanya. "Biasanya ke rumah orangtua," kata Ahok, sapaan Basuki, di Balai Kota, Selasa, 17 Februari 2015.

    Ahok dan keluarganya menghabiskan liburan Imlek di Jakarta. Ia mengatakan tak akan menggelar acara open house. Semua sanak famili akan berkumpul di rumah ibu dari Ahok, Buniarti Ningsih. Sebabnya, ibunya merupakan anak tertua dan selalu didatangi oleh para adiknya.

    Menurut Ahok, kenangan masa kecil yang paling diingatnya saat Hari Raya Imlek yakni angpau. Saat anak-anak, ia menuturkan, anggota keluarga dan kerabat yang berkunjung ke rumahnya di Belitung Timur selalu memberinya angpau.

    Namun tradisi itu berhenti sejak Ahok dan keluarganya pindah ke Jakarta dan menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat. "Sekarang tak boleh berurusan dengan angpau, gratifikasi," ujar Ahok sambil tertawa.

    Sementara itu, menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, keberadaan burung pipit dan ikan bandeng marak di kawasan Glodok, Taman Sari, Jakarta Barat. Tradisi Imlek sendiri dianggap erat kaitannya dengan keberadaan dua binatang tersebut. Pantauan Tempo, Selasa, 17 Februari 2015, sejumlah pedagang ramai-ramai menawarkan dagangannya kepada pengikut kepercayaan Khong Hu Cu tersebut.

    Salah satunya dilakukan oleh Sobirin, 25 tahun, penjual burung pipit di dekat Vihara Dharma Bakti. Dia sengaja memanfaatkan momentum Imlek untuk mencari rezeki tambaham. Sebab, burung pipit diyakini pengikut Khong Hu Cu sebagai pembuang sial. "Banyak yang cari burung pipit, jadi coba-coba jualan saja," ujar laki-laki bertubuh kurus tersebut.

    Tak tanggung-tanggung, Sobirin pun membawa kandang hingga tiga tingkat untuk menampung burung bersuara nyaring. Daerah tempat dia berjualan pun menjadi riuh dengan suara kicauan burung yang saling bersahutan. Harga burung kecil itu cukup murah, yakni Rp 1.200 per ekor.

    Menurut Sobirin, orang Cina penganut Kong Hu Cu biasanya melepas kembali burun tersebut dengan tujuan untuk melepaskan sial. Karena itu, keberadaan burung itu pun dicari pengunjung klenteng untuk melakukan tradisi tersebut. "Ada juga burung merpati tapi harganya Rp 80 ribu sepasang, jadi banyak yang cari burung pipit," ujar dia.

    LINDA HAIRANI | DIMAS SIREGAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.