Begini Ribetnya Membangun Jalur MRT

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengerjaan proyek Mass Rapid Transit (MRT) di kawasan Bundaran HI, Jakarta, 17 Juli 2014. ANTARA/Adimas Raditya

    Pengerjaan proyek Mass Rapid Transit (MRT) di kawasan Bundaran HI, Jakarta, 17 Juli 2014. ANTARA/Adimas Raditya

    TEMPO.COJakarta - Pembangunan mass rapid transit memasuki tahap persiapan pengeboran dari titik transisi di kawasan Patung Pemuda, Bundaran Senayan. Pengeboran menggunakan tunnel boring machine (TBM) atau mesin bor bawah tanah diperkirakan dimulai pada Juli 2015.

    Project Manager MRT Allan Tandiono mengatakan TBM merupakan mesin buatan Jepang yang sudah jadi dan segera dikirim ke Indonesia. Mesin tersebut berbentuk bor raksasa dengan diameter sekitar 6,7 meter dan panjang 90 meter. “Mesin bor ini ibarat pabrik kecil yang bisa dioperasikan secara semi-otomatis dengan sistem komputer yang modern,” ujarnya, Kamis, 26 Februari 2015.

    Rangkaian mesin tersebut, tutur Allan, dapat melakukan beberapa pekerjaan sekaligus, dari mengebor, menyedot, hingga menampung tanah untuk kemudian dibuang. Dia pun memastikan pekerjaan ini aman dilakukan. Dalam proses pengeboran, "grouting" akan dilakukan untuk menahan tanah sekitarnya agar tidak longsor saat pengeboran.

    Dia memperkirakan, pada akhir Mei nanti, TBM tiba di Indonesia bersamaan dengan selesainya pembuatan launching shaftLaunching shaft merupakan ruang bawah tanah yang tengah dibangun untuk digunakan sebagai tempat perakitan mesin bor bawah tanah dan tempat dimulainya pengoperasian TBM.

    Allan menjelaskan, launching shaft merupakan area yang akan menjadi tempat awal masuk mesin bor. Titik itu ada di area Patung Pemuda, Jakarta. “Kami rakit dulu TBM di situ,” ucapnya. Soalnya, TBM saat tiba tidak dalam bentuk utuh, melainkan perlu dirakit dulu. "Perakitan TBM butuh waktu satu setengah sampai dua bulan".

    Untuk diketahui, area yang dikerjakan konsorsium SOWJ (Shimizu-Obayashi-Wika-Jaya Konstruksi) adalah dari titik transisi di Patung Pemuda Senayan hingga Stasiun Setiabudi. Total, ada empat stasiun bawah tanah yang dibangun di jalur sepanjang 3,89 kilometer itu. Setiap stasiun bawah tanah rata-rata memiliki panjang sekitar 200 meter. Jarak antarstasiun di ruas tersebut 580 meter hingga 1,08 kilometer.

    Rinciannya, dari titik transisi ke Stasiun Senayan (depan Ratu Plaza) sekitar 320 meter, dari Stasiun Senayan ke Stasiun Istora sekitar 630 meter, dari Istora ke Stasiun Bendungan Hilir sepanjang 1,08 kilometer, dan dari Stasiun Bendungan Hilir ke Stasiun Setiabudi sekitar 580 meter.

    Stasiun bawah tanah akan dibuat di kedalaman 17 meter. Saat ini, di lokasi tempat pembangunan stasiun bawah tanah Senayan, sudah selesai terbangun d-wall atau dinding stasiun bawah tanah. Dinding dari beton setebal 1 meter itu akan menjadi sisi kanan dan kiri dari stasiun seluas 200 meter persegi.

    Deputi Manajer Konstruksi SOWJ (Shimizu-Obayashi-Wika-Jaya Konstruksi) Muhammad Destrial mengatakan dibutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk mengebor dari area Patung Pemuda ke stasiun ini. Dalam sehari, TBM dapat melakukan pemboran sepanjang 8-10 meter. Setelah penggalian stasiun bawah tanah, akan dibuat atap yang akan menahan bagian kanan dan kiri D-wall agar tak ambruk.

    Destrial menuturkan pihaknya menjadwalkan, pada akhir tahun ini, kerangka kasar dari stasiun bawah tanah sudah terlihat. “Seharusnya delapan bulan, tapi mudah-mudahan enam bulan sudah selesai,” ujarnya.

    NINIS CHAIRUNNISA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.