Warga Bogor Keluhkan Harga Beras Masih Tinggi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang warga membawa sejumlah kantong beras saat operasi pasar beras di Pasar Wonokromo, Surabaya, 26 Februari 2015. Petugas membatas  penjualan hanya 10 kilogram setiap orang. TEMPO/Fully Syafi

    Seorang warga membawa sejumlah kantong beras saat operasi pasar beras di Pasar Wonokromo, Surabaya, 26 Februari 2015. Petugas membatas penjualan hanya 10 kilogram setiap orang. TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.CO, Jakarta - BOGOR, - Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto menegaskan jika Pemerintah Kota Bogor menjamin ketersediaan beras di Kota Bogor masih aman dan tidak ada penimbunan beras yang dilakukan oleh oknum atau tengkulak beras.

    Padahal saat ini yang dikeluhkan oleh warga Bogor bukan karena stok dan ketersediaan beras yang langka atau hilang, akan tetapi warga mengeluhkan kenaikan harga beras yang dalam dua pekan terakhir ini. Rata-rata kenaikan beras Rp 1.000 sampai Rp 1.500 perliter.

    "Kondisi saat ini bukan kelangkaan beras yang terjadi tapi harga beras yang semakin mahal, dalam dua minggu terakhir ini, yang awalnya harga, Rp 8 ribu perliter sekarang menjadi Rp 10 ribu perliter dengan kwalitas beras yang sama," kata Ny Ikoy, salah seorang pedagang di Kota Bogor, Kamis 26 Februari 2015.

    Dia mengatakan, untuk ketersediaan beras di Bogor masih banyak dan cukup untuk dua hingga 5 bulan kedepan, akan tetapi yang tidak dapat dikendalikan adalah harga beras yang terus merangkak naik, "Mudah-mudahan pemerintah dapat menurunkan harga beras, " kata dia.

    Hal senada diungkapkan Harja, 42 tahun, salah satu pedagang beras di Pasar Bogor, saat ini stok masih aman meskipun ada keterlambatan, akan tetapi banyak masyarakat yang mengeluhkan kenaikan harga, yang awalnya Rp 450 ribu perkarung (50 kilogram) naik menjadi Rp 510 ribu perkarung."

    "Untuk stok memang ada keterlambatan, tapi masih bisa mencukupi untuk kebutuhan masyarakat. Harga memang ada kenaikan yang tidak dapat dikendalikan," kata dia, setelah ditemui Wali Kota Bogor Bima Arya, saat melakukan sidak harga beras, Kamis 26 Februari 2015.

    Menanggapi hal tersebut Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto, pihaknya menjamin bahwa tidak ada penimbunan beras di Kota Bogor, "Jadi memang ada kenaikan harga beras. Kami menunggu operasi pasar dari disperindag. Tapi dipastikan tidak ada penimbunan," ungkapnya.

    Menurut Bima, memang ada kenaikan harga beras seperti di wilayah lainnya. Rata-rata kenaikan beras berkisar antara Rp 3.000 hingga Rp 4.000. Untuk bisa menstabilkan harga beras kembali, "Kami akan menunggu operasi pasar yang akan dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan perdagangan (Disperindag) Kota Bogor," kata dia.

    Sementara, Dirut PD. Pasar Pakuan Jaya, Andri Latif Asikin mengatakan, pihaknya juga akan terus memantau fluktuasi harga beras. selama ini pasokan beras di Pasar Baru Bogor disuplai dari gudang beras Bulog Dramaga, "Sampai saat ini pasokannya, masih stabil kalo kenaikan harga memang dari bulognya harga beras sudah naik. Jadi mau tidak mau harga di pasar juga naik, karena adanya keterlambatan panen," pungkasnya.

    Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bogor Mangait Sinaga mengatakan jika kenaikan beras di Kota Bogor masih wajar, belum menyentuh kenaikan 10 persen sehingga belum perlu dilakukan operasi pasar. "Harganya beras saat ini masih fluktuatif, kenaikanya pun belum mencapai 10 persen. " katanya.

    Dia mengatakan jika kebutuhan beras Kota Bogor mencapai 75.000 ton per bulan. "Pasokan di Kota Bogor aman. Sehingga belum saatnya dilakukan operasi pasar," kata dia.

    M SIDIK PERMANA 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.