Jam Sekolah Bogor Dimajukan, Siswa Dikhawatirkan Tak Sarapan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Siswa sekolah dasar (SD) menaiki KRL Commuter Line di Stasiun Bogor, Jawa Barat, (27/8). Setiap hari, KRL Commuter Line menjadi salah satu transportasi favorit bagi sebagian pelajar di kawasan Bogor dan sekitarnya. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    Siswa sekolah dasar (SD) menaiki KRL Commuter Line di Stasiun Bogor, Jawa Barat, (27/8). Setiap hari, KRL Commuter Line menjadi salah satu transportasi favorit bagi sebagian pelajar di kawasan Bogor dan sekitarnya. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Bogor - Rencana Pemerintah Kota Bogor untuk memajukan jam masuk sekolah 30 menit lebih awal yang tadinya masuk pukul 07.00 WIB maju menjadi pukul 06.30 WIB, ditolak oleh orang tua siswa.

    Sebab, dengan kebijakan bukan solusi untuk mengurangi kemacetan arus lalu lintas di Kota Bogor terutama sekitar Istana Bogor. Namun membuat berat dan repot orang tua dan siswa karena harus lebih pagi lagi mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah.

    "Sekarang saja yang masuk pukul 07.00 anak saya harus bangun jam 06.00 pagi, terus mandi dan mempersiapkan diri selama 30 menit, dan pukul 06.30 langsung berangkat," kata Yopie Melianton Doroh, 43 tahun, salah satu orang tua murid asal Perumahan Bantarjati II, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor.

    Dia mengatakan, dengan masuk ke sekolah pukul 07:00 saja, anaknya yang masih duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar negeri di Kota Bogor itu, kadang tidak sempat untuk sarapan pagi sebelum berangkat, karena harus tiba di sekolah 15 menit lebih awal, "Anak saya suka malas sarapan dan ingin cepat-cepat berangkat sekolah karena takut terlambat masuk, sehingga tidak sempat sarapan dan harus membawa sarapan tersebut," kata dia.

    Akan tetapi, ungkap dia kendati anaknya tersebut dibekali sarapan dari rumah, tetap saja bila sampai ke sekolah tidak akan sempat untuk menyantapnya karena sudah langsung berbaur dengan teman-teman sekelasnya, "Bekal sarapan yang dibawa dari rumah ternyata dia santap pukul 09,00 pada saat istirahat sekolah, jadi mereka memilih untuk jajan di sekolah padahal belum tentu higienis," kilah dia.

    Hal senada diungkapkan oleh Swedia Henaldi, 39 tahun, warga Perumahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, dengan dimajukan jam sekolah otomatis dirinya harus lebih awal berangkat kerja. "Kadang saya harus mengantar anak berangkat sekolah, sekalian berangkat kerja, tapi jika dimajukan lebih pagi maka saya pun harus lebih pagi lagi berangkat kerjanya," kata dia.

    Bahkan, dengan dimajukannya 30 menit lebih awal sehingga jam bangun anaknya pun harus lebih maju lagi. "Dikawatirkan mereka di sekolah bukan untuk menyerap materi pelajaran, akan tetapi malah ngantuk karena bangun lebih awal, " kata dia.

    Sementara itu, Kepala Satuan Lalu Lintas Polisi resor Bogor Kota Ajun Komisaris Irwandi mengatakan jika di Kota Bogor ini arus lalu lintas tidak macet akan tetapi hanya padat, "Yang bilang Bogor macet itu hanya warga dan wartawan saja," kilah dia.

    Dia menjabarkan kondisi kemacetan terjadi jika kendaraan sudah berhenti dan tidak bergerak sama sekali. Menurut dia, kepadatan arus lalu lintas di Kota Bogor itu terjadi hanya kondisi tertentu yakni pada pagi dan sore hari karena ada peningkatan aktivitas masyarakat.

    Dia mengaku, pihak Kepolisian Bogor Kota belum mendapatkan informasi prihal rencana Pemkot Bogor untuk memajukan jam masuk sekolah lebih awal, "Kita belum ada koordinasi, dan yang berhak dan berwenang untuk itu bukan kami tapi Pemkot, tugas kami adalah mengatur arus lalu lintas, " kata dia.

    M SIDIK PERMANA 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.