'Desa Sasak Cocok untuk Pelarian Begal Motor'  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi menunjukan tiga tersangka pelaku begal motor IS (18), D (18), dan ADP (18) berikut barang bukti yang berhasil ditangkap  di Mapolresta Depok, Jawa Barat, 1 Februari 2015.  ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

    Polisi menunjukan tiga tersangka pelaku begal motor IS (18), D (18), dan ADP (18) berikut barang bukti yang berhasil ditangkap di Mapolresta Depok, Jawa Barat, 1 Februari 2015. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

    TEMPO.CO , Depok - Juru bicara Kepolisian Resor Depok Inspektur Dua Bagus Suwardi mengatakan, penggerebekan di Desa Sasak Panjang tepatnya di Kampung Buluh, Sabtu 28 Februari 2015, polisi berhasil menyita pretelan kendaraan bermotor dan berbagai macam onderdil yang dikumpulkan hampir 2 truk penuh.

    Bagus mengatakan, polisi membuat para terduga penadah hasil pencurian begal motor itu kocar-kacir. Hasil pretelan kendaraan itu, kata dia, bila disatukan atau dirakit menjadi kendaraan bermotor bisa menjadi 20 unit motor.


    "Salah satu orang yang diduga penadah ditangkap," tuturnya 2 Maret 2015. "Dia hanya sebagai pemetik dan membedah  sepeda motor."


    Disinyalir daerah Desa Sasak Panjang dan sekitarnya menjadi tempat pelarian para pelaku begal motor. Kondisi desa yang berada di pinggiran Kota Depok itu jauh dari keramaian masyarakat dan minim penerangan jalan umum. "Ini lokasi yang tersembunyi. Kemungkinan lokasi itu menjadi pelarian para begal."


    Sementara itu, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Barat Ajun Komisaris Besar Putu Putera Sadana mengatakan, hampir seluruh jalanan di Jakarta Barat rawan terhadap aksi begal. "Kalau bicara titik rawan, ya, semua jalan di Jakarta Barat itu rawan," kata dia di kantornya, Senin, Maret 2015.

    Putera mengatakan, kerawanan jalan raya di Jakarta Barat cukup beralasan. Sebab, tidak sedikit jalan yang cenderung lurus dan tidak berbelok-belok, namun dalam kondisi sepi.

    Salah satunya adalah Jalan Latumenten yang menghubungkan Grogol dengan Tambora. Jalan itu dianggap cukup rawan lantaran secara fisik kondisinya baik tapi sepi dari warga sekitar. Namun secara khusus, Putu mengatakan daerah paling rawan di Jakarta Barat adalah daerah Cengkareng. "Karena banyak jalan yang lurus dan sepi di kawasan tersebut," ujar dia.


    FAHADZ AHMAD FAUZI 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.