EKSKLUSIF: Alasan Begal Motor Sekarang Makin Sadis

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi begal motor. TEMPO/Iqbal Lubis

    Ilustrasi begal motor. TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Jakarta - Para begal motor kini semakin sadis kepada para korbannya. Mereka tega menyakiti, bahkan membunuh, bila ketahuan atau korbannya melawan. Kasus terakhir, Acam Mulyadi, sopir taksi Blue Bird yang tewas ditembak begal di rumahnya Jalan Bintara Jaya, Kota Bekasi, Sabtu dini hari, 7 Maret 2015.

    Ismail alias Minak Radin, 43 tahun, seorang mantan jawara begal dari Lampung Timur, menjelaskan, saat ini para begal merasa harus lebih waspada. Polisi dan masyarakat saat ini lebih tega dan kejam. “Kalau tertangkap, risikonya bisa dipukuli dan dibakar masyarakat sampai mati, atau ditembak polisi,” ujar Ismail kepada Tempo tiga pekan lalu dengan mimik serius.

    Itu sebabnya para begal selalu membekali diri dengan senjata. Misalnya samurai, parang, dan senjata api. Awalnya senjata-senjata ini hanya dibuat untuk menakut- nakuti korbannya. Tapi sekarang malah digunakan untuk membela diri para begal. “Prinsipnya sekarang, dari pada aku yang mati, lebih korbannya atau polisi yang mati,” ujar Minak sambil meninggikan suaranya.

    Seorang begal kakap dari Lampung Timur mengaku selalu menenteng pistol rakitan tiap beraksi. Bentuknya mirip revolver, dengan kemampuan bisa menembakkan hingga empat kali tanpa harus mengokang pelatuk. Ia membeli pistol itu dari temannya seharga Rp 3,5 juta. “Supaya menaikkan kepercayaan diri saat beraksi,” kata pria berusia 27 tahun itu.

    Ia mengaku berusaha menghindari kontak dengan para korbannya. Itu sebabnya ia lebih suka membegal sepeda motor yang parkir di jalan atau rumah. Namun ia tak segan menyakiti korbannya bila melawan atau ketahuan. “Berkelahi juga pernah,” katanya. Ia tak mau menyebutkan sudah berapa kali ia meletuskan senjata itu dan berapa korbannya. Ia berhenti membegal karena teman -teman dekatnya sudah habis ditembak mati polisi.

    Polisi sampai bingung mengapa begal-begal itu semakin sadis tiap harinya. “Selain bingung, kami juga kesal,” kata Direktur Reserse dan Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Purwo Cahyoko kepada Tempo. Tiap begal yang ditangkap hanya divonis ringan, tak sampai setahun penjara. Padahal, anak buahnya mempertaruhkan nyawa saat menangkap mereka.

    TIM INVESTIGASI TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.