Resmikan Jalan Layang Blok M-Ciledug, Djarot Minta Maaf  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Djarot Saiful Hidayat saat meresmikan pembangunan jalan layang Kapt. Tendean- Blok M- Cileduk di Jakarta, 10 Maret 2015. Pembangunan jalan layang sepanjang 9,3 km itu diperkirakan menelan biaya Rp 2,5 triliun. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Djarot Saiful Hidayat saat meresmikan pembangunan jalan layang Kapt. Tendean- Blok M- Cileduk di Jakarta, 10 Maret 2015. Pembangunan jalan layang sepanjang 9,3 km itu diperkirakan menelan biaya Rp 2,5 triliun. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.COJakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat meminta maaf kepada masyarakat atas kemacetan yang ditimbulkan proyek pembangunan jalan layang Transjakarta Kapten Tendean-Blok M-Ciledug. Ia berujar, kemacetan tersebut merupakan efek tak terhindarkan demi membangun rute koridor ke-13 bus Transjakarta.

    "Mohon maaf kepada warga karena proyek ini mengganggu kenyamanan berlalu lintas," kata Djarot di lokasi peresmian proyek, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa, 10 Maret 2015.

    Pantauan Tempo, arus lalu lintas di lokasi peresmian terpantau padat. Kemacetan dimulai dari persimpangan lalu lintas Seskoal hingga ujung fly over Kebayoran Lama. Titik-titik pembangunan tiang menyebabkan lebar jalan menjadi lebih sempit. Kendaraan hanya mampu melaju dengan kecepatan 10 kilometer per jam.

    Meski begitu, Djarot berujar, efek kemacetan tersebut setimpal dengan hasil yang diperoleh setelah pembangunan rampung. Ia menjelaskan jalan layang sepanjang 9,3 kilometer itu mampu mengurangi kemacetan dengan mengalihkan pengguna kendaraan motor ke transportasi massal. Dengan begitu, kepadatan arus lalu lintas di ruas jalan bawahnya juga berkurang.

    "Kami harus menunjukkan kalau kami bisa membangun proyek ini," kata Djarot.

    Proyeksinya, Djarot mengatakan, jalan layang hanya diperuntukkan bagi Transjakarta. Meski begitu, masih bisa berubah bergantung pada kajian dari Dinas Perhubungan. "Tapi sementara ini khusus busway," ujar Djarot.

    LINDA HAIRANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.