Organda: Preman Kelola Sopir Metro Mini Tembakan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas kepolisian melihat kondisi Metromini 69, jurusan Ciledug-Blok M, yang menabrak tiga motor di atas flyover Kebayoran Lama, Jakarta, 10 Maret 2015. TEMPO/Subekti

    Petugas kepolisian melihat kondisi Metromini 69, jurusan Ciledug-Blok M, yang menabrak tiga motor di atas flyover Kebayoran Lama, Jakarta, 10 Maret 2015. TEMPO/Subekti

    TEMPO.COJakarta - Dinas Perhubungan dan Polda Metro Jaya dinilai tidak serius menertibkan sopir Metro Mini dan Kopaja sehingga kecelakaan lalu lintas terus terjadi. Selasa, 10 Maret 2015, dua Metro Mini S-69 rute Cilieduk-Blok M kejar-kejaran untuk mendapatkan penumpang. 

    Di jalan layang Kebayoran Lama, angkutan umum itu menabrak tiga sepeda motor yang menyebabkan pengendara dirawat di rumah sakit. "Kesaksian warga memang mobilnya kebut-kebutan, padahal keadaan jalan macet," kata Kepala Kepolisian Sektor Metro Kebayoran Lama Komisaris Riftazudin. 

    Sebelumnya, beberapa kali aksi ugal-ugalan sopir Metro Mini membawa korban jiwa penumpang dan pengendara sepeda motor. Antara lain Metro Mini T-47 rute Pondok Kopi-Senen, S-75 rute Blok M-Pasar Minggu, dan T-49 rute Manggarai-Pulo Gadung. Perilaku yang sama juga dilakukan sopir Kopaja, angkutan umum lainnya. 

    Ketua Organda DKI Shafruhan Sinungan mengatakan hal tersebut terjadi karena pengelolaan angkutan umum itu yang tidak baik. Dia menyebutkan ada kelompok tertentu yang membuat pengelolaan angkutan umum, khususnya Metro Mini, menjadi tidak benar. "Ini karena ada preman-preman yang mengelola sopir-sopir tembak," katanya kepada Tempo, Selasa, 10 Maret 2015.

    Sopir-sopir tembak inilah, menurut Shafruhan, yang rata-rata mengoperasikan armada dengan ugal-ugalan karena mengejar setoran. Karena itu, dia meminta Dinas Perhubungan dan kepolisian melakukan tindakan tegas. Bukan hanya terhadap sopir yang melanggar aturan, tapi juga kepada preman-preman yang beroperasi. "Ini sudah puluhan tahun terjadi. Patah satu tumbuh seribu," ujarnya.

    Dia menawarkan solusi untuk setidaknya bisa mengurangi persoalan ini. "Semua angkutan umum harus segera terintegrasi dengan PT Transjakarta," kata Shafruhan. Dengan begitu, menurut dia, Metro Mini mau tak mau akan mengikuti standar operasional yang ditentukan Transjakarta.

    Seperti, dia mencontohkan, yang sudah dijalani Kopaja AC. Sedikit demi sedikit kinerja angkutan yang identik dengan warna hijau-putih itu membaik. "Tidak bisa, kan, ada sopir tembak di Kopaja AC?" ujarnya.

    NINIS CHAIRUNNISA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.