Ayah Nadhira Yakin Anaknya Tak Kabur dengan Teman Facebook  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto anak hilang, Nadhira Fajriani Ramadhan. TEMPO/Maya Nawangwulan

    Foto anak hilang, Nadhira Fajriani Ramadhan. TEMPO/Maya Nawangwulan

    TEMPO.COJakarta - Keluarga Nadhira Fajriani Ramadhan, siswi SMP yang hilang sejak Sabtu, 7 Maret 2015, mengaku yakin anaknya tidak kabur dengan teman yang dikenal melalui jejaring sosial.

    Boyke Affandi, ayah Nadhira, mengatakan sangat memperhatikan pergaulan anaknya di dunia maya untuk mencegah pergaulan bebas. Bahkan Boyke memastikan pada perangkat komunikasi anaknya tak ada aplikasi jejaring maya, seperti Facebook dan Twitter

    "Di komputer rumah juga saya batasi. Kalau ada kata-kata yang tak pantas, otomatis tak akan dimunculkan oleh firewall," kata Boyke kepada Tempo, Kamis, 12 Maret 2015.

    Pria yang bekerja pada bidang teknologi informasi ini menyatakan sebenarnya tak ingin membatasi pergaulan anaknya. "Tapi kan itu tadi, narkoba, pornografi, semua sekarang bisa diakses lewat Internet," kata Boyke.

    Secara umum, Boyke menilai anaknya sebagai sosok yang mudah bergaul. Bahkan, jika bertemu dengan orang asing, dia kerap mencoba untuk mengobrol. Tak hanya itu, Nadhira juga sering terlihat akrab dengan anak jalanan serta petugas keamanan perumahan.

    Walaupun begitu, Nadhira kerap mengeluh sering dirisak teman sekelasnya. Hal inilah yang menyebabkan akhirnya dia pindah sekolah. Kepindahannya ke sekolah baru nyatanya tak membuat Nadhira bisa bersekolah dengan tenang. "Di sekolah yang baru juga masih sering dirisak, baik secara fisik maupun mental."

    Nadhira, 14 tahun, menghilang dari keluarganya. Dia terakhir diketahui berada di sekolahnya di Pondok Rangon, Jakarta Timur, pada Sabtu, 7 Maret 2015, saat mengikuti kegiatan pendalaman materi persiapan ujian nasional.

    FAIZ NASHRILLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.