Baca Buku Rina Gerindra, Ahok: Ngeri Ah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). TEMPO/Aditia Noviansyah

    Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta: Rina Aditya Sartika pernah bertemu Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama pada masa kampanye pemilihan legislatif, tahun lalu. "Dia minta saya menulis kata pengantar dalam bukunya," kata Ahok, sapaan Basuki, di Balai Kota, Kamis, 19 Maret 2015.

    Ahok mengatakan buku tersebut merupakan alat peraga kampanye Rina ketika maju dalam pemilu legislatif dari Partai Gerindra. Dia belum tahu kalau Rina anak dari Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Suku Dinas Pendidikan Menengah Jakarta Barat Alex Usman. Alex pernah diperiksa Polda Metro Jaya sebagai saksi pengadaan uninterruptible power supply (UPS) senilai Rp 280 miliar.

    Ahok tak mengingat judul buku Rina. Ia hanya mengingat buku tersebut berisi tentang kebudayaan Betawi. "Dia datang dengan membawa buku tentang kebudayaan Betawi," kata dia. Ahok juga tak mengetahui bahwa anggaran pengadaan buku tersebut ternyata tercantum dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2014.

    Dalam APBD 2014, buku yang dimaksud Ahok diadakan lewat beberapa program. Buku tersebut di antaranya berjudul Dari Delman Menuju MRT yang diperuntukkan bagi siswa sekolah menengah pertama dengan nilai proyek Rp 600 juta, sekolah menengah atas (Rp 500) juta, sekolah dasar (Rp 830 juta), dan sekolah menengah kejuruan (Rp 500 juta).

    Judul buku lain yakni Urban Batavia Urban Jakarta yang diadakan dengan dana Rp 500 juta, Jakarta Dulu Rawa Sekarang Pencakar Langit (Rp 500 juta), dan Batavia Era Kolonial hingga Jokowi (Rp 500 juta).

    Rina juga meminta Ahok membantu proses kampanye. Rina mempersiapkan lokasi kamaenye dan meminta Ahok datang. Ahok menolak permintaan tersebut. Alasannya, ia tak mau namanya disalahgunakan di kemudian hari. "Setelah saya baca, saya ngeri ah," tutur Ahok.

    LINDA HAIRANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.