Kasus Polisi di You Tube, Polda Minta Ini Ke Transjakarta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas kepolisian memberhentikan sejumlah pengendara motor yang memasuki jalur busway di depan stasiun Jatinegara, Jakarta Timur, 8 September 2014. TEMPO/Dasril Roszandi

    Petugas kepolisian memberhentikan sejumlah pengendara motor yang memasuki jalur busway di depan stasiun Jatinegara, Jakarta Timur, 8 September 2014. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Subdit Keamanan dan Keselamatan Ditlantas Polda Metro Jaya Ajun Komsaris Besar Irvan Satya menyarankan agar Transjakarta menggunakan sistem khusus di jalurnya. Ini dilakukan untuk menghalangi kendaraan lain yang akan menerobos jalur busway.

    "Misalnya dengan meninggikan atau merendahkan jalur busway dibanding jalan di sekelilingnya. Sehingga kendaraan yang lain tak bisa jalan," katanya di Polda Metro, Kamis, 25 Maret 2015.

    Cara lainnya, kata dia, Transjakarta bisa jalan dengan melawan arah agar jalurnya benar-benar steril. Sehingga orang-orang yang menerobos jalur akan enggan karena bakal tertabrak.

    Dia juga menyarankan agar Transjakarta tak memungut bayaran dari masyarakat. Dengan begitu peminatnya akan semakin bertambah banyak.

    Irvan mengatakan banyak masyarakat yang belum nyaman menggunakan moda angkutan umum, termasuk busway. Sebagian masyarakat memilih menggunakan kendaraan pribadi.

    Menurut dia, pertumbuhan kendaraan pribadi saat ini sangat pesat. Untuk sepeda motor bisa mencapai 4 ribu per hari. "Jadi kalau dua hari bertambah 8 ribu," ujarnya.

    Saat ini, kata dia, sepeda motor di Ibu Kota mencapai 12 juta. Sedangkan mobil sebanyak 4 juta. "Itu yang terdaftar, yang ancur tak didaftarkan banyak," katanya.

    Dengan kepadatan ini, kecepatan laju kendaraan sangat berkurang. Dari idealnya 40 kilometer per jam di dalam kota, hanya menjadi 16 kilometer per jam di jalanan Ibu Kota. Kepadatan itu hampir merata di semua sudut Ibu Kota.

    NUR ALFIYAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.