Kasus Akseyna yang Tenggelam, Polisi Periksa 11 Mahasiswa UI

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Akseyna Ahad Dori. Facebook.com

    Akseyna Ahad Dori. Facebook.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Perwira Urusan Hubungan Masyarakat Kepolisian Resor Depok Inspektur Dua Bagus Suwardi mengatakan penyidik sudah memeriksa 15 saksi kasus kematian mahasiswa Universitas Indonesia, Akseyna Ahad Dori, 18 tahun. Akseyna, ditemukan tewas mengambang di Danau Kenanga, UI, Kamis, 26 Maret 2015.

    Menurut Suwardi, kelima belas saksi itu terdiri dari teman korban, keluarga, dan pihak kos. "Dari total saksi, ada 11 mahasiswa yang sudah diperiksa," kata dia ketika dihubungi Tempo, Kamis, 2 April 2015.

    Salah satu yang diperiksa, ucap Suwardi, adalah Jibril. Jibril merupakan teman Ace--sapaan Akseyna, di Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia.

    Kepolisian masih kesulitan memastikan apakah kematian Ace akibat dibunuh atau bunuh diri. Sebab saat pertama kali ditemukan, di dalam tas ransel korban terdapat beberapa batu berukuran besar. Dugaannya batu tersebut digunakan untuk menenggelamkan korban.

    Jenazah itu pun terlihat lebam. Menurut Suwardi, lebam pada tubuh Ace itu merupakan lebam mayat. Karena, dia diduga sudah tewas lebih dari 48 jam. Mengenai tas yang berisi batu, Suwardi belum bisa memastikannya.

    Dari keterangan para saksi, ucap Suwardi, kepolisian belum bisa memutuskan apa kasus ini merupakan bunuh diri atau tidak. "Kami harus hati-hati, kalau bilang sekarang, nanti kami ada kesalahan, dan belum ada saksi yang bilang ini bunuh diri," kata dia.

    Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Depok Agus Salim mengatakan kepolisian masih melakukan tahap penyelidikan dalam kasus Ace. Namun, dia enggan menjelaskan hasil otopsi. Ketika Tempo mendatangi ruangannya, dia tidak ada. "Kami masih dalami kasus ini. Sudah, saya sedang rapat," kata dia sambil memutuskan telepon.

    HUSSEIN ABRI YUSUF


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.