April Ini, Mesin Bor MRT Jakarta Tiba dari Jepang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja di kawasan proyek Mass Rapid Transit (MRT) di dekat Patung Pemuda Membangun, kawasan bundaran air mancur Senayan, Jakarta, 26 Maret 2015. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Pekerja di kawasan proyek Mass Rapid Transit (MRT) di dekat Patung Pemuda Membangun, kawasan bundaran air mancur Senayan, Jakarta, 26 Maret 2015. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.COJakarta - Lubang sedalam 12 meter dengan panjang 200 meter berada di tengah-tengah Jalan Sisingamangaraja dan Jalan Sudirman. Di dalam lubang ini bakal ditempatkan dua mesin bor terowongan (tunnel boring machine) proyek mass rapid transit (MRT) di Jakarta. 

    “Mesin bor itu dijadwalkan tiba di Indonesia pada April dan Mei 2015,” kata Dono Boestami, Direktur Utama PT Mass Rapid Transit Jakarta, kepada Tempo. Saat ini, kedua mesin itu dalam perjalanan dari Jepang. Sesampainya di Jakarta, mesin itu dirakit kembali dan bakal beroperasi pada Agustus-September 2015.

    Dua bor itu akan digunakan untuk pembuatan jalur terowongan fase pertama proyek MRT Jakarta. Fase pertama adalah jalur dari Lebak Bulus hingga Bundaran Hotel Indonesia. Dari sepanjang 16 kilometer jalur itu, 6 kilometer merupakan terowongan bawah tanah dan 10 kilometer merupakan jalan layang. Sedangkan untuk fase kedua, dari Bundaran HI ke Kampung Bandan, sepanjang 9 kilometer berupa terowongan.

    Pada lubang sedalam 12 meter di dekat Patung Pemuda, mesin bor mulai beroperasi. Posisi bor nantinya menghadap ke arah Jalan Sudirman. Sedangkan ekor bor sepanjang 80 meter lebih akan memanjang di bawah Patung Pemuda hingga Jalan Sisingamangaraja.

    M. Nasyir, Direktur Konstruksi PT Mass Rapid Transit Jakarta, mengatakan bor MRT memiliki diameter luar 6,65 meter dan diameter dalam 6,05 meter. Mata bornya memiliki panjang hampir 10 meter, sedangkan ekornya sepanjang 80 meter lebih.

    Dua bor pertama itu masing-masing digunakan untuk mengerjakan satu terowongan yang bersisian. Meskipun diatur bersamaan, kedua bor tersebut tidak beroperasi berbarengan. “Satu bor bekerja, misalnya 50 meter dulu, baru kemudian bor satunya menyusul. Ini demi faktor keamanan,” ujar Nasyir.

    Mesin bor itu memiliki pisau bor yang dirancang khusus dan disesuaikan dengan kondisi tanah di lokasi proyek. Karena itu, mesin bor senilai hampir Rp 70 miliar per unit ini hanya bisa dioperasikan untuk proyek tertentu.

    Nantinya bor itu akan bekerja 24 jam. Pada mesin pengendali bor akan ada tiga orang yang mengoperasikan bor secara terkomputerisasi. Dalam 24 jam, terowongan yang digali dan diselesaikan sepanjang sekitar 8-10 meter.

    Dono Boestami mengatakan, untuk fase pertama, terdapat enam stasiun bawah tanah yang saat ini sedang dikerjakan, yaitu Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran HI. “Targetnya, penggalian selesai pada 2016. Untuk stasiun ditargetkan kelar pada 2017,” ujarnya.

    ERWIN ZACHRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.