Anak Alex Usman Muncul di Paripurna Angket DPRD DKI

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perangkat Uninterruptible Power Supply (UPS) atau pasokan daya bebas gangguan di ruang penyimpanan UPS SMA 78, Jakarta, 28 Februari 2015. Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama 'Ahok', laporkan dugaan penyelewengan dana APBD DKI 2014 yang diduga dilakukan DPRD DKI dalam pengadaan UPS. ANTARA/Puspa Perwitasari

    Perangkat Uninterruptible Power Supply (UPS) atau pasokan daya bebas gangguan di ruang penyimpanan UPS SMA 78, Jakarta, 28 Februari 2015. Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama 'Ahok', laporkan dugaan penyelewengan dana APBD DKI 2014 yang diduga dilakukan DPRD DKI dalam pengadaan UPS. ANTARA/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Fraksi Gerindra Rina Aditya Sartika muncul pada acara rapat paripurna di gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin 6 April 2015.

    Rina nyaris bungkam sembari terus melangkah menuju ruang sidang paripurna. Anak Alex Usman, tersangka kasus uninterruptible power supply (UPS) ini datang menggunakan blazer putih tulang dipadu celana panjang berwarna cokelat gading. Rina datang tanpa membawa dokumen apapun di tangannya. Wajahnya dipoles make up yang sederhana dengan warna lipstik merah muda. Rina berjalan tergesa-gesa menghindari beberapa wartawan yang mencecarnya dengan pertanyaan terkait pengadaan buku.

    Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok meyakini ada anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI yang bermain dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 2014. Alasannya, ada mata anggaran yang dikhususkan bagi anggota Dewan dari Fraksi Partai Gerindra, yakni Rina.

    "Tahun lalu kami bangga karena anggaran pendidikan besar. Ternyata kami membeli bukunya si Rina," kata Ahok di Balai Kota, Selasa, 17 Maret 2015.

    Ahok menjelaskan, Rina merupakan anak Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Suku Dinas Pendidikan Menengah Jakarta Barat Alex Usman. Nama Rina muncul lantaran pengadaan buku tersebut dilakukan bersamaan dengan kampanyenya sebagai calon legislator.

    Ahok berujar, harga buku tersebut sebenarnya Rp 45 ribu per eksemplar. Namun dalam APBD 2014 nilainya membengkak menjadi Rp 100 ribu per eksemplar.

    Dalam APBD 2014, buku yang dimaksud Ahok diadakan lewat beberapa program. Buku tersebut di antaranya berjudul Dari Delman Menuju MRT yang diperuntukkan bagi siswa sekolah menengah pertama dengan nilai proyek Rp 600 juta, sekolah menengah atas (Rp 500) juta, sekolah dasar (Rp 830 juta), dan sekolah menengah kejuruan (Rp 500 juta).

    Judul buku lain yakni Urban Batavia Urban Jakarta yang diadakan dengan dana Rp 500 juta, Jakarta Dulu Rawa Sekarang Pencakar Langit (Rp 500 juta), dan Batavia Era Kolonial hingga Jokowi (Rp 500 juta).

    Adapun rekan Rina di Fraksi Gerindra, Muhamad Sanusi mengatakan kasus buku dan melibatkan Rina hanya upaya untuk mendiskreditkan Gerindra. Sanusi mengatakan tak ada hubungannya peran Rina yang saat itu belum menjadi anggota Dewan dan menulis buku soal Ahok. "Apa bedanya menulis kata pengantar Ahok Kontraktornya siapa, yang ngerjain siapa, enggak ada hubungannya," ujar Sanusi.

    Dalam penyusunan buku tersebut menurut Sanusi, Rina berperan pebagai penulis dan perumus materi dan penyusunan buku tersebut tak ada kaitannya dengan kampanye. "Jangan bicara bahan kampanye. Sudah baca bukunya belum?" kata Sanusi.

    AISHA SHAIDRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.