Waduk Gagasan Jokowi Kini Jadi Kolam Sampah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terlihat tiga alat berat mengeruk lumpur dari waduk Melati, Jakarta, 16 Februari 2015. Pengerukan dilakukan untuk mencegah banjir, dan membersihkan waduk dari sampah. M IQBAL ICHSAN/ TEMPO

    Terlihat tiga alat berat mengeruk lumpur dari waduk Melati, Jakarta, 16 Februari 2015. Pengerukan dilakukan untuk mencegah banjir, dan membersihkan waduk dari sampah. M IQBAL ICHSAN/ TEMPO

    TEMPO.CO, Jakarta - Hujan lebat mengguyur Kampung Rambutan tak lebih dari sejam. Tapi, tingginya curah hujan cukup untuk menaikkan tinggi permukaan air di Waduk Kampung Rambutan, Jakarta Timur. Kira-kira hujan selama sejam membuat tinggi permukaan air naik setengah meter.

    Basuki Rahmad, 35 tahun, yang tinggal di seberang waduk tak heran dengan kecepatan air waduk yang naik saat hujan. "Dasar waduk itu penuh sampah plastik," kata dia kepada Tempo, Rabu, 8 April 2015.

    Waduk Kampung Rambutan merupakan proyek yang digagas Joko Widodo semasa dia menjabat Gubernur DKI Jakarta. Pembangunan waduk dianggap sebagai salah satu solusi banjir yang kerap melanda Ibu Kota.

    Tapi, kata Basuki, pengerjaan waduk sudah mandek sejak pertengahan tahun lalu. Alat berat yang semula bersiaga untuk mengeruk tanah dan sampah sudah ditarik pemerintah. "Hasilnya waduk itu kini jadi kolam sampah," dia berujar.

    Benar saja pernyataan Basuki. Di sekitar waduk yang luasnya mencapai 2,6 hektare itu, bermacam-macam sampah tertimbun. Bahkan, ada kursi kayu yang sengaja dibuang di pinggiran waduk. Cuma tanaman perdu dan semak belukar yang mau tumbuh di bantaran. "Kalau hujannya berhari-hari, air waduk bisa meluber dan balik ke pemukiman warga sambil membawa sampah," kata warga RT 10 RW 06, Kelurahan Rambutan, tersebut.

    Fachrurozi, 34 tahun, punya cerita berbeda soal Waduk Kampung Rambutan. Belum rampungnya pengerjaan waduk membuat warga leluasa mendekati bantaran untuk memancing. "Saya pernah mendapat ikan mujaer saat memancing di waduk itu," kata dia.

    Ketua RW 06, Kelurahan Rambutan, Sumanta, membenarkan mangkraknya waduk malah menimbulkan banyak masalah pada warganya, seperti sampah. Penyebabnya, tak ada perawatan yang berlanjut sejak waduk dikerjakan pada Januari 2014. "Seperti dibiarkan begitu saja sama pemerintah," kata dia. Sumanta menambahkan, kemajuan proyek cuma 30 persen sejak pembebasan lahan pada tahun lalu.

    Sumanta mendesak pemerintah segera merampungkan pembangunan Waduk Kampung Rambutan. Alasannya, warga di sekitar waduk dipastikan kena banjir karena meluapnya permukaan air waduk. "Sampah dari dasar waduk itu yang lebih merepotkan kalau meluber ke rumah warga," dia berujar.

    RAYMUNDUS RIKANG


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gempa Maluku Utara dan Guncangan Besar Indonesia Selama 5 Tahun

    BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami. Peringatan ini menyusul Gempa Maluku yang terjadi di Jailolo, Maluku Utara, Kamis, 14 November 2019.