Kasus Deudeuh Seks Sadistis, Polisi: Memang Ada Luka...

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Deudeuh Alfisahrin. Twitter.com/@Tataa_chubby

    Deudeuh Alfisahrin. Twitter.com/@Tataa_chubby

    TEMPO.COJakarta - Adanya dugaan dari ahli psikologi forensik bahwa Deudeuh Alfisahrin, 26 tahun, melakukan seks sadistis belum dapat dipastikan polisi. Menurut Kepala Kepolisian Sektor Tebet Komisaris I Ketut Sudharma, dugaan tersebut masih minim barang bukti. "Belum ada dugaan motif pembunuhan karena proses penyidikan masih berlangsung," katanya saat ditemui di kantornya, Selasa, 14 April 2015.

    Menurut dia, kesimpulan seks sadistis terlalu awam. Alasannya, dari tujuh saksi yang diperiksa dan olah TKP awal, tak ada indikasi yang mengarah pada perilaku sadis hingga berujung kematian.

    I Ketut mengatakan memang ada luka pada kemaluan Deudeuh. Namun itu bukan penyebab utama kematiannya. Seperti yang dikemukakan dalam hasil otopsi, Deudeuh meninggal karena lemas kehabisan oksigen akibat kabel yang menjerat lehernya.

    Hal lain yang sedang didalami adalah alat kontrasepsi yang ditemukan sudah terpakai di kamar Deudeuh. Sperma yang ditemukan, kata dia, akan jadi alat bukti untuk menemukan misteri pembunuh Deudeuh.

    Deudeuh Alfisahrin, 26 tahun, ditemukan tewas di kamar kosnya di daerah Tebet, Jakarta Selatan, pada Sabtu malam, 11 April 2015. Jasad ditemukan dalam keadaan mulut tersumpal kaus kaki dan terjerat kabel pengering rambut.

    Sebelumnya, ahli psikologi forensik dari Universitas Indonesia, Reza Indragiri Amriel, menduga kasus pembunuhan yang menimpa Deudeuh Alfisahrin, 30 tahun, terjadi karena kecelakaan. Menurut dia, ada kemungkinan korban meninggal karena adanya perilaku seksual sadistis dari pelaku sehingga berujung pada kematian.

    "Polisi bisa menyelidiki apakah ada bukti persenggamaan pada tubuh korban beberapa saat sebelum ia dihabisi," katanya kepada Tempo melalui pesan elektronik, Senin, 13 April 2015.

    YOLANDA RYAN ARMINDYA| GANGSAR PARIKESIT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.