Soal Deudeuh, Wagub Djarot Sering Dapat SMS Perempuan Seksi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Djarot Saiful Hidayat saat meresmikan pembangunan jalan layang Kapt. Tendean- Blok M- Cileduk di Jakarta, 10 Maret 2015. Pembangunan jalan layang sepanjang 9,3 km itu diperkirakan menelan biaya Rp 2,5 triliun. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Djarot Saiful Hidayat saat meresmikan pembangunan jalan layang Kapt. Tendean- Blok M- Cileduk di Jakarta, 10 Maret 2015. Pembangunan jalan layang sepanjang 9,3 km itu diperkirakan menelan biaya Rp 2,5 triliun. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.COJakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengaku kerap mendapat pesan pendek yang menawarkan jasa perempuan seksi. "Saya ini khawatir handphone saya banyak sekali masuk SMS yang saya enggak tahu dan menawarkan perempuan seksi," ujar Djarot saat ditemui di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis 16 April 2015.

    Hal tersebut diutarakan Djarot saat ditanya wartawan mengenai tindakan yang bisa dilakukan Pemerintah Provinsi terkait dengan kasus pembunuhan terhadap seorang wanita yang diduga kerap menjual jasa layanan seks. Jenazah wanita bernama Deudeuh Alfisahrin tersebut ditemukan dalam kondisi tanpa busana dan hanya berbalut selimut dengan leher terjerat kabel dan mulut tersumpal kaus kaki.

    Menyikapi tersibaknya bisnis prostitusi lewat media sosial dari pembunuhan Deudeuh, Djarot berencana mendatangi pemilik nomor-nomor yang mengirim SMS tersebut. "Kami akan datangi, satu per satu kami akan cek. Malamlah atau sore juga enggak apa-apa," kata Djarot. 

    Djarot mengatakan akan segera mengumpulkan ketua rukun tetangga dan rukun warga serta lurah dan camat untuk mendata tempat-tempat prostitusi di Jakarta.

    Sebagai langkah awal, Pemerintah Provinsi DKI akan membuat imbauan untuk mengetatkan aturan tamu wajib lapor jika menginap 1 x 24 jam. "Ini artinya kontrol sosial semakin longgar. Kami ingatkan lagi, ini bukan hanya untuk prostitusi, tapi juga terorisme," ucap Djarot. 

    Imbauan ini, menurut Djarot, akan segera ditetapkan sejalan dengan upaya pemerintah Jakarta menangkal terorisme di Jakarta. "Kami segera berkoordinasi dengan ketua RT dan RW untuk mendata rumah," kata Djarot.

    Pada Sabtu, 11 April 2015, Deudeuh ditemukan tewas di kamar kosnya dengan kondisi mengenaskan. Lehernya terjerat kabel dan mulutnya tersumpal kaus kaki. Saat ditemukan, tubuhnya tak memakai busana dan hanya ditutupi selimut.

    Polisi menangkap tersangka pembunuh Deudeuh pada Rabu dinihari, 15 April 2015. Tersangka, yang merupakan guru lembaga bimbingan belajar, diciduk di rumahnya di Bogor.

    AISHA SHAIDRA 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.