Ada 'Kodok Bisu' Jadi Saksi Kisah Penjaja Cinta Online  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seekor kodok menggunakan daun sebagai payung untuk melindungi dari hujan di Jember, Jawa Timur. Dailymail.co.uk/Penkdix Palme

    Seekor kodok menggunakan daun sebagai payung untuk melindungi dari hujan di Jember, Jawa Timur. Dailymail.co.uk/Penkdix Palme

    TEMPO.COJakarta -  Boneka kodok hijau muda seukuran anak balita itu berada tepat di tengah tempat tidur. Rindu, begitu perempuan itu menyebut namanya, mengatakan boneka itu adalah yang paling dia sayang di antara semua boneka yang terdapat di kamarnya."Dia (boneka) jadi penjaga saya, matanya seperti ada CCTV," kata perempuan itu ketika ditemui Tempo di kawasan Karet, Jakarta Selatan, Kamis, 16 April 2015.

    Rindu adalah perempuan yang menjajakan cinta secara online. Sudah bertahun-tahun ia sukses menggeluti bisnis esek-esek ini. Tapi kisah tragis yang dialami Deudeuh Alfisahrin, 26 tahun, yang dibunuh tamunya di kamar kosnya sendiri di Tebet, membuat Rindu sedikit berhati-hati. Semula ia menolak diwawancarai Tempo. Setelah bercakap-cakap cukup lama, Rindu akhirnya bersedia. Perempuan 30 tahun ini mengaku Rindu bukanlah nama aslinya. "Saya tak bisa ceritakan nama asli saya," katanya.

    Rindu, yang mengontrak kamar di daerah Karet, Kuningan, Jakarta Selatan, selalu membawa boneka itu ke mana-mana. Boneka kodok itu sudah dia bawa sejak setahun yang lalu, ketika ia menjalani debutnya sebagai pemain cinta kilat di Jakarta. Warnanya yang mulai agak lusuh menjadi tanda bahwa boneka itu tak pernah lepas dari dekapan Rindu. "Jika tak ada tamu datang, aku seharian peluk boneka," kata Rindu, yang menggunakan kamar kontrakannya untuk melayani para tamunya.

    Rindu menaruh boneka kodok ijo itu di tempat tidur. Ketika Rindu sedang beraksi dengan tamunya, kodok ini seolah-olah mengawasi setiap gerak-gerik mereka, berjaga-jaga agar si tamu tak sampai berbuat jahat kepada Rindu. "Entah kenapa saya merasa tenang kalau melihatnya," katanya.

    Petualangan Rindu menjadi penjaja cinta online berawal saat temannya menawari bisnis ini saat dia baru tiba di Jakarta. Beban harus melunasi utang orang tua di bank menjadi motivasi terbesarnya untuk mengiyakan tawaran temannya.

    Lama-kelamaan, ada orang lain yang melirik akunnya di dunia maya. Dia diajak bergabung oleh perantara agar namanya bisa lebih dikenal. Dia pun dibuatkan akun media sosial di Facebook, Twitter, dan Omegle. Dia mengaku tak memahami cara kerja promosi di situs-situs itu. Tapi orang kepercayaannya tersebut memastikan akan selalu menyortir calon tamunya agar dia tak kena tipu.

    Admin akun media sosialnya ini menggunakan nomor yang berbeda dengan nomor yang dia gunakan untuk berkomunikasi dengan para tamunya yang sudah biasa datang dengan jalur privat via SMS. Dia mengatakan nomor pribadi itu dibagikan kapada tamu yang dapat dipercaya dan sudah datang ke kamar kontrakannya lebih dari satu kali. "Tapi, prinsipnya, saya tak pilih-pilih tamu," katanya.

    YOLANDA RYAN ARMINDYA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.