Jelang Ramadan, Omzet Pedagang Tanah Abang Masih Rp 9 Juta  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang merapikan baju batik dagangannya di toko batik grosir dan eceran Irfan di pasar Tanah Abang, Jakarta, 14 April 2015. Pemerintah melalui kementerian Perdagangan akan melarang impor kain batik ataupun yang menyerupai batik untuk melindungi usaha batik dalam negeri. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Pedagang merapikan baju batik dagangannya di toko batik grosir dan eceran Irfan di pasar Tanah Abang, Jakarta, 14 April 2015. Pemerintah melalui kementerian Perdagangan akan melarang impor kain batik ataupun yang menyerupai batik untuk melindungi usaha batik dalam negeri. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Ada kondisi anomali di tahun ini jelang Ramadan yang dirasakan pedagang. Pedagang di Blok M Square, Jakarta Selatan, dan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, yang biasanya kebanjiran order, belum merasakan ada peningkatan order signifikan seperti tahun lalu.

    Di Blok B Tanah Abang yang tak pernah sepi dari pengunjung, misalnya, beberapa pedagang belum merasakan kenaikan jumlah order. "Dua bulan sebelum Ramadan pas tahun lalu memang rame, tapi tahun ini biasa saja," kata Yenita Viola, penjaga kios kain India, Senin, 20 April 2015. Per hari, omzet kios yang menempati Blok A los D lantai SLG ini mencapai Rp 8 juta-9 juta per hari. Saat Ramadan, kios ini bisa meraup omzet Rp 30 juta per hari.

    Pengakuan serupa diutarakan oleh Vina yang biasa menjaga toko pakaian dalam. "Kalau saat ini sih belum ada ya," kata perempuan yang berusia 25 tahun ini. Omzet toko yang terletak di Blok B los D lantai B1 ini mencapai Rp 2 juta per hari. Jelang Ramadan biasanya omzet per hari meningkat dua kali lipat.

    Di kawasan grosir lainnya, Blok M Square, beberapa pedagang yang Tempo kunjungi juga mengungkapkan hal yang sama. Aisyah, 25 tahun, menuturkan belum ada banjir order grosiran maupun banjir pengunjung eceran. "Biasanya juga memang bukan sekarang tapi sebulan sebelum Lebaran, pas Ramadan itu baru ramai," kata dia.

    Saat Ramadan, kata Isa, omzet per hari bisa mencapai Rp 30 juta. "Itu dari pukul 09.30 sampai 22.00 pengunjung nggak berhenti," kata dia. Tetapi pada hari biasa, omzet per hari hanya sekitar Rp 5 juta.

    Sementara itu, pedagang di lantai dual Blok G los B berharap Ramadan mengubah peruntungan mereka. "Saya sudah dari Januari belum kejual satu pun," kata Sri Sulistiani, 46 tahun. Ia yang kebagian jatah di los B BCT 22 ini biasanya mengantongi Rp 400 ribu per hari, sekarang justru harus rugi ongkos. "Semoga Ramadan bawa berkah," katanya.

    DINI PRAMITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.