2 Kejanggalan Mencolok Kematian Akseyna Versi Sang Ayah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi mengevakuasi mayat seorang pemuda, dari Danau Kenanga, Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, 26 Maret 2015. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

    Polisi mengevakuasi mayat seorang pemuda, dari Danau Kenanga, Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, 26 Maret 2015. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

    TEMPO.CO, Jakarta - Ayah Akseyna Ahad Dori, Kolonel Sus Mardoto, menaruh harapan kepada Kepolisian Daerah Metro Jaya ihwal kasus kematian putranya. Musababnya, Polda ikut turun tangan menyelidiki kasus kematian pria berusia 18 tahun yang ditangani Kepolisian Resor Depok.

    "Semoga penyebab kematian anak saya bisa segera ditemukan dengan turunnya bantuan dari Polda," kata dia ketika dihubungi, Senin, 20 April 2015.

    Ace, sapaan Akseyna, ditemukan tewas mengambang di Danau Kenanga pada 26 Maret 2015. Saat ditemukan, jenazahnya masih dalam kondisi berpakaian lengkap dan tas menempel di punggungnya. Dalam tas itu, ditemukan bongkahan batu yang diduga digunakan untuk menenggelamkan mahasiswa Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, ini.

    Saat ditemukan, polisi langsung membawa jenazah ke Rumah Sakit Polri R. Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur. Hampir satu bulan itu, Polres Depok belum bisa menyimpulkan apa Ace mati dibunuh atau bunuh diri.

    Padahal, ucap Mardoto, dia dan keluarga menilai banyak kejanggalan dalam kasus kematian ini. Kejanggalan pertama ada bongkahan batu di dalam tas yang menempel di jenazah Ace.

    Kedua, kata Mardoto, adanya luka memar di tubuh Ace. Ketiga, secarik kertas bertuliskan "Will not return for please don't search for existence, my apologies for everything enternally," yang ditemukan di kamar kos Ace di Kelurahan Kukusan, Beji, bukan tulisan anaknya. "Penyidik banyak mengabaikan pertemuan awal ini," katanya.

    Dengan turunnya Polda, kata Mardoto, semoga tidak mengabaikan temuan awal itu. "Karena, kalau bunuh diri tidak akan melakukan cara serumit itu."

    HUSSEIN ABRI YUSUF


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.