Kisah Rindu Penjaja Cinta, Kencan Buta tanpa Asmara

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi prostitusi online. asiaone.com

    Ilustrasi prostitusi online. asiaone.com

    TEMPO.COJakarta - Kematian Deudeuh Alfisahrin menguak bisnis prostitusi online lewat media sosial. Pembunuhnya, Muhammad Prio Santoso, mengenal perempuan 28 tahun itu lewat Twitter. Saat keduanya berhubungan pada Jumat, 10 April 2015, Prio membunuhnya karena tersinggung ucapan Deudeuh yang menyebut tubuhnya bau tak sedap. Koran Tempo menelusuri bisnis prostitusi yang tumbuh seiring koneksi Internet kian meluas tersebut. 

    Apa yang terjadi kepada Deudeuh adalah risiko paling fatal para penyedia jasa kencan lewat Internet. Rindu, penjaja cinta di dunia online, lebih senang berkencan di kamar kosnya di Jakarta Selatan. 

    Rindu merasa jauh lebih aman berkencan di kosnya dibanding di hotel. “Penjaga tahu pekerjaan saya, sehingga mereka akan mengawasi setiap tamu yang masuk kamar saya,” ucap perempuan 30 tahun yang setahun ini menjadi penjaja cinta lewat Internet.

    Rindu tak punya germo. Dia mengelola sendiri akun Twitter dan Facebook dengan dibantu seorang teman. Nomor telepon yang tercantum di akun itu pun dia pegang sendiri. Setiap hari, rata-rata dia melayani lima laki-laki. Di akunnya jelas disebutkan dia tak melayani berhubungan badan lewat belakang dan dengan kekerasan.

    Tapi Rindu pernah kecolongan ketika menerima seorang masokis di hotel. Pulang dari sana, tubuhnya biru lebam dan ada bekas cambuk di punggungnya. “Saya kapok meski dia mau membayar lebih,” tuturnya. Tarif Rindu dalam kencan normal sebesar Rp 1,5 juta per jam.

    Rindu juga rajin periksa kesehatan dengan biaya Rp 1 juta setiap bulan. Apalagi Rindu punya pacar orang Malaysia yang datang sewaktu-waktu ke Jakarta. Pacarnya itu, kata dia, tak tahu pekerjaannya di Jakarta. Bulan lalu, mereka putus karena tak tahan berpisah jauh.

    Dengan tamu-tamunya, Rindu menolak jatuh cinta. Dia tak mau bertemu dengan laki-laki yang datang kedua kali dengan membawa cokelat atau bunga dan mulai memanggilnya dengan sebutan “sayang”.  Menurut dia, melibatkan perasaan akan mengganggu kencan dengan laki-laki berbeda. “Saya hanya menikmatinya,” katanya.

    Kekerasan, kejahatan, penyakit, dan perasaan adalah ancaman bagi para penjaja cinta online. Kini mereka mesti hati-hati, karena Menteri Komunikasi dan Informatika berencana membekukan akun-akun tak senonoh di media sosial. Hal itu membuat Rindu cemas.

    YOLANDA RYAN ARMINDYA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.