Angkutan Umum di Depok, Mati Segan Hidup pun Enggan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bus umum Kopaja. TEMPO/Subekti.

    Bus umum Kopaja. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Depok -  Nasib angkutan umum di Kota Depok kini di ujung tanduk: mati segan hidup pun enggan. Satu persatu perusahaan yang beroperasi gulung tikar. Biaya operasional yang tinggi dan kewajiban melakukan peremajaan armada menjadi biang keladi hilangnya sejumlah trayek dari peredaran.

    Terlebih, banyak penumpang yang beralih menggunakan kendaraan pribadi dan kereta yang bebas macet. Angkutan umum semakin megap-megap bertahan di tengah kondisi demikian. 

    John, salah seorang pengurus Kopaja 63 jurusan Depok-Blok M, mengeluh lima tahun terakhir kendaraan yang dikelolanya mengalami penyusutan. Pada 2010 Kopaja 63 masih memiki 40 unit armada yang beroperasi melayani penumpang. Namun saat ini hanya ada 12 armada yang masih beroperasi.

    Itu pun, kata dia, tidak seluruhnya beroperasi. "Hanya delapan sampai sepuluh saja yang masih jalan. Kadang ada saja satu dua bus yang rusak," kata John, Sabtu, 22 April 2015.

    Saat masih banyak penumpang, Kopaja 63 masih bisa mengambil penumpang sampai lima rit. "Tapi saat ini dapat empat rit saja sudah syukur. Penumpang lebih banyak naik kereta," ucap Jhon.

    Jhon mengatakan penumpang hanya ramai saat pagi menjelang jam kerja. Kopaja 63 jalan setiap satu jam sekali. "Yang bisa diandalkan jam berangkat kerja saja dan pulang kerja dari Blok M. Kalau sudah jam sembilan ke atas, ada lima atau sepuluh penumpang tetap jalan," ucapnya.

    Ia mengatakan setiap supir dan kernet yang menarik Kopaja 63 harus membayar setoran sebanyak Rp 350 ribu. Tapi seringkali supir hanya membayar Rp 250 ribu. "Kami bisa maklum sebab memang sepi. Paling supir hanya mengambil sisa Rp 50-100 ribu sehari," ucapnya.

    Ia mengaku tak bisa meramal nasib Kopaja 63, yakni masih bisa beroperasi atau tidak. Yang pasti, kata dia, lima tahun terakhir merupakan masa yang sulit untuk Kopaja 63 bisa bertahan. Sebab, biaya operasionalnya saja sudah tinggi.

    Belum lagi dalam lima tahun ini unit bus harus diremajakan dengan mengganti yang baru. Pengusaha pasti lebih memilih memberhentikan operasional kendaraannya, seperti PO yang lain. Sebab, untuk mengganti yang baru mencapai Rp 500 jutaan.

    "Memaksakan juga akan rugi. BBM harganya tinggi. Ban saja harus ganti maksimal enam sampai tujuh bulan sekali. Itu pun memakai yang vukanisir dengan harga sekitar Rp 600-700 ribu satu ban. Yang pabrik Rp 1,4 juta untuk satu ban," ujarnya.

    Untuk biaya operasional sehari bisa menghabiskan Rp 250 ribu. Perwatan penggantian oli dua bulan sekali. "Oli juga harganya sekali ganti sekitar Rp 250 ribu," ia menjelaskan.

    Senada, Yana Supriatna salah seorang pengurus PO MGI jurusan Depok-Bandung, menuturkan tak bisa berharap bus ini bisa terus mengantar penumpang. Sebab, jumlah penumpang terus berkurang dari tahun ke tahun.

    Ia mengaku hanya mengandalkan penumpang pada hari libur. "Kalau hari libur 30 penumpang bisa diangkut dari Terminal Depok. Namun kalau hari biasa sepuluh penumpang sudah paling banyak," ia menjelaskan.

    Kepala Unit Pelaksana Teknis Terminal Kota Depok Endang Wahyu tak menampik banyak PO bus yang gulung tikar. Sejak 2011 hingga kini sedikitnya 70 persen angkutan umum di Depok hilang dari peredaran. Dari 50 trayek yang pernah ada, baik antar kota antar provinsi (AKAP) dan antar kota dalam provinsi (AKDP), saat ini tinggal 16 yang masih beropeasi.

    Total ada 109 armada bus AKAP maupun AKDP yang masih beroperasi. "Sebelumnya, bahkan satu PO mempunyai sekitar 30 armada. Tapi saat ini hanya ada yang tinggal satu," kata Endang.

    Menurut Endang, saat ini banyak perusahaan angkutan umum yang membanting stir menjadi penyedia bus travel. Hal itu lebih menguntungkan karena jalan sesuai dengan adanya permintaan dari penumpang. Untuk angkutan umum memang sudah ada jadwalnya.

    Kepala Terminal Depok Reynold John menjelaskan angkutan umum di Depok semakin sepi. Penumpang lebih memilih naik KRL Commuter Line daripada angkutan umum menuju Jakarta ataupun Bogor.

    Dalam sehari, kata dia, ada 25 ribu penumpang yang datang ke Terminal Depok. Namun hampir seluruhnya menggunakan kereta. Terminal hanya menjadi transit saja. "Yang naik bus hanya sekitar 3 ribu penumpang saja per hari," ucapnya.

    IMAM_HAMDI (DEPOK)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.