Susahnya Mengerem Bisnis Esek-esek di Kalibata City

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Apartemen Kalibata City, Jakarta. TEMPO/ M Iqbal Ichsan

    Apartemen Kalibata City, Jakarta. TEMPO/ M Iqbal Ichsan

    TEMPO.COJakarta - Polisi menggerebek Tower Hebras pada Sabtu, 25 Maret 2015, karena ada dugaan praktek pelacuran remaja di bawah umur di apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan, itu. Penggerebekan tersebut seolah membuka “kotak Pandora” pelacuran di unit-unit apartemen yang marak dibangun di Ibu Kota sejak 1990-an.

    Dan penggerebekan itu tak mematikan bisnis esek-esek. Dian Andriani—begitu ia ingin dipanggil—adalah pelacur yang berkencan dengan tamu-tamunya di Kalibata City. Ia bersedia bertemu dengan Koran Tempo pada Kamis pekan lalu untuk menunjukkan bahwa prostitusi di apartemen sulit diberantas. "Kencan-kencan tetap ada di tower lain," kata perempuan 22 tahun ini.

    Ada 17 tower di Kalibata City dengan 11.500 kamar. Dian berpindah-pindah kamar antar-tower karena janji kencan ditentukan para germo. Dian menginduk kepada Mira, perempuan 28 tahun yang menjadi “emaknya”. Mira mempromosikan Dian dengan nama ranjang Sisi lewat Twitter dan forum dunia maya. Mira pula yang menyewa kamar apartemen Rp 2,7 juta sebulan. 

    Dian praktis hanya menunggu telepon Mira. Sehari-hari ia bekerja pada bagian administrasi sebuah perusahaan keuangan. Ia tertarik menjadi angel—sebutan Mira untuk delapan anak asuhnya—karena faktor ekonomi. Orang tuanya, kata Dian, tak mampu membiayai kuliahnya di Bina Sarana Informatika jurusan manajemen.

    Malam itu, ia baru pulang dari kantor. Tanpa canggung, Dian masuk ke kamar di lantai 19. Ia seperti hafal tata cara masuk ke apartemen: dari memakai kartu akses di pintu tower, lift, hingga melewati penjagaan. Hebras berada di belakang, sementara kamar yang akan dipakai kencan oleh Dian berada di tower depan.

    Kamar yang disewa Mira tak berada di tower itu. Kamarnya dipakai oleh angel lain. Menurut Dian, kamar di lantai 19 itu disewa Mira hanya untuk sekali kencan. Sebelum masuk ke tower ini, Dian bertemu dengan seorang laki-laki di kedai kopi di lantai dasar. “Dia yang memegang kartu akses dan kunci,” ujarnya.

    Para pemegang kunci ini, kata Dian, biasanya utusan para broker properti yang diminta pemilik kamar untuk menawarkan sewa. Mira berhubungan dengan para broker ini untuk tahu mana saja unit-unit yang kosong. Para penadah mendapat Rp 150 ribu dari setiap pelacur yang berkencan dua jam. “Satu penadah memegang kunci sepuluh unit,” tutur Dian.

    Tarifnya sendiri Rp 1 juta sekali kencan. Harga itu sudah bersih karena uang muka 20 persen ditransfer tamunya kepada Mira sebelum kencan. Dengan sistem seperti itu, Dian mengantongi Rp 10 juta setiap bulan. Tak setiap malam Dian berkencan, meski dalam semalam ia bisa 2-3 kali berkencan. “Setelah ini ke tower sebelah,” ucapnya.

    General Manager Kalibata City Evan T. Wallad tak paham sejak kapan apartemennya menjadi tempat pelacuran. Ia juga tidak tahu bahwa pelacuran tak hanya terjadi di Tower Hebras. “Ada area privasi yang tak bisa kami kontrol,” katanya.

    Pengelola, kata Evan, tak bisa melarang pemilik menyewakan atau membawa anggota keluarga menginap, sehingga lalu lintas penghuni tak bisa dideteksi. Ketika serah-terima kunci, manajemen mensyaratkan untuk menunjukkan bukti kepemilikan yang dikonfirmasi dengan kartu identitas. “Tanpa dokumen, tak akan kami berikan,” ujarnya.

    RAYMUNDUS RIKANG


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.