Calon Doktor Jadi Pengemudi Go-Jek dan Terkenal, Begini Kisahnya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Thomas Sutana, driver Go-Jek yang kuliah sampai S3. TEMPO/Yolanda Armindya

    Thomas Sutana, driver Go-Jek yang kuliah sampai S3. TEMPO/Yolanda Armindya

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengemudi Go-Jek, Thomas Sutana, awalnya tak menyangka bisa terkenal di media sosial. Bahkan mahasiswa yang sedang mengambil program doktor di salah satu perguruan tinggi di Jakarta itu tak tahu jika ada faktor yang membuatnya terkenal.

    "Saya hanya narik Go-Jek biasa saja setiap hari," kata Tana--sapaan akrab Thomas--saat ditemui Tempo di Pondok Indah, Jakarta Selatan, Jumat, 18 September 2015.

    Namun dia mengaku memang minggu lalu tak sengaja mengambil pesanan pelanggan Go-Jek dari Pondok Indah ke Kemang. Saat tiba di satu rumah besar berpagar tinggi, satpam rumah itu memberi tahu Tana bahwa pelanggannya tersebut adalah salah satu petinggi Go-Jek. Tapi Tana tak tahu yang mana orangnya.

    Sebelum pergi, pria 48 tahun ini merasa diberi tes oleh si petinggi Go-Jek. Tana ditanya soal kelengkapan untuk penumpang Go-Jek, mulai helm, masker wajah, dan penutup rambut. Jalur alternatif ke Kemang pun tak luput ditanyakan. Saat di perjalanan, petinggi Go-Jek ini mulai mengajak ngobrol Tana, mulai motivasi Tana bekerja sebagai pengemudi Go-Jek hingga keseharian Tana dan keluarga.

    "Saat tiba di kantor Go-Jek, saya baru tahu dia adalah Kevin Aluwi, Chief Financial Ojek Go-Jek Indonesia," ucap pria asal Klaten itu.

    Sejak Go-Jek memasang fotonya di akun Instagram resmi perusahaan tersebut, banyak mantan murid Tana yang ikut bangga dan haru lewat komentar-komentar mereka. Dia pun tak mempermasalahkan jika identitasnya dikenal banyak orang. Dia malah senang apabila bisa menginspirasi masyarakat luas.

    "Intinya, jangan pernah menyerah dengan keadaan."

    YOLANDA RYAN ARMINDYA

    Baca juga:
    Go-Jek, Blu-Jek, dan GrabBike: Ayo Mana yang Paling Keren

    Polemik dari Senayan: Benarkah Rokok Merupakan Warisan Budaya?



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menolak Lupa, 11 Kasus Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu

    Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menilai pengungkapan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu tak mengalami kemajuan.