Jumat, 16 November 2018

Tak Ada Kernet, Penumpang Ragu Naik Feeder Transjakarta  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas mengatur parkir armada bus Trans-Kopaja terintegrasi dengan Transjakarta saat peluncuran di Jakarta, 22 Desember 2015. Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama, memberi kebebasan kepada pihak Trans-Kopaja untuk mengatur trayek. TEMPO/M Iqbal Ichsan

    Petugas mengatur parkir armada bus Trans-Kopaja terintegrasi dengan Transjakarta saat peluncuran di Jakarta, 22 Desember 2015. Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama, memberi kebebasan kepada pihak Trans-Kopaja untuk mengatur trayek. TEMPO/M Iqbal Ichsan

    TEMPO.COJakarta - Sudah dua pekan bus pengumpan atau feeder Transjakarta beroperasi di enam koridor. Puluhan bus berwarna biru muda dan putih tersebut berhenti di halte yang dilalui bus Transjakarta, tapi pamornya masih kalah dengan bus utama. Di halte Dukuh Atas 2, misalnya, penumpang yang berbaris di lajur antrean menuju Ragunan tampak ragu-ragu menaiki bus tanpa kernet itu. 

    Sebagian memilih menunggu bus Transjakarta berwarna abu-abu atau merah. "Ayo, ke Ragunan pakai ini juga bisa. Sama saja, tidak bayar," kata petugas Transjakarta, Bernadi, Minggu siang, 3 Januari 2016.

    Setelah diumumkan, belasan penumpang langsung masuk ke bus. Saat bus berhenti di halte Patra Kuningan, dua wanita tak jadi masuk ke dalam bus. Sedangkan sopir hanya mampu memberi tahu dari balik kemudinya, tapi seolah tak terdengar. "Ayo Ragunan, Ragunan."

    Penumpang yang masuk lewat halte Transjakarta tak akan ditarik biaya tambahan saat menaiki bus pengumpan sebesar Kopaja itu. Pembayaran hanya dilakukan sekali untuk layanan bus terintegrasi selama tidak ke luar halte. Tarif yang dikenakan sebesar Rp 3.500 untuk semua layanan.

    Seorang penumpang, Rusmanto, menyayangkan minimnya sosialisasi penggunaan bus baru ini. Ia menyarankan agar pengelola menambah kernet yang bertugas menarik minat penumpang. "Supaya orang tahu ini gratis, tak bayar lagi. Jadi semua bisa naik," ujar warga Tambora itu.

    Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama geram lantaran bus sepi peminat karena tak ada kernet di dalam bus. Menurut Ahok, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah menghitung anggaran operasional Transjakarta feeder, termasuk pengadaan kernet. “Kami, kan, sudah hitung, kenapa kernet dihilangkan?” tutur Ahok. Menurut dia, selain membantu penumpang, kernet bisa mendongkrak tingkat keterisian bus. "Tinggal teriak-teriak, lalu bilang penumpang cuma bayar sekali."

    Direktur PT Transjakarta Antonius Kosasih mengatakan peniadaan kernet dimaksud untuk menghapus pungutan di dalam bus. Untuk sosialisasi awal, Kosasih memasang spanduk di semua halte yang terlayani bus pengumpan dan pengumuman lewat petugas halte. "Pengadaan kernet paling lambat bulan ini," ucap Kosasih. Menurut dia, selain memudahkan penumpang, pengadaan asisten sopir mampu menyerap tenaga kerja.

    PT Transjakarta juga akan menerapkan sistem pembayaran di dalam bus khusus untuk penumpang yang naik di luar koridor utama. "Kami buat halte bus pengumpan yang bisa e-ticketing, lalu tapping on bus," katanya.

    Pada 22 Desember 2015, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meresmikan 320 unit bus Kopaja ukuran sedang sebagai angkutan pengumpan Transjakarta untuk enam koridor. Yaitu, rute Monas-Pantai Indah Kapuk, Ragunan-Monas, Ragunan-Dukuh Atas, Lebak Bulus-Senen via Stasiun Cikini, dan Blok M-Manggarai via Stasiun Manggarai.

    Sayangnya, hingga kini bus rute Lebak Bulus-Senen belum dioperasikan. Kosasih beralasan kajian rute bus masih dalam tahap perizinan ke Dinas Perhubungan. "Kami perlu lihat lagi apakah rute itu sudah yang paling dibutuhkan atau harus dimodifikasi lagi," ujarnya.

    MAYA AYU PUSPITASARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.