Apa Beda Pilih Gubernur dengan Sepeda Motor? Ini Kata Ahok

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok setibanya di Gedung KPK, Jakarta, 12 April 2016. Kedatangan Ahok tersebut untuk dimintai keterangannya terkait penyelidikan dugaan korupsi pembelian lahan RS Sumber Waras. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok setibanya di Gedung KPK, Jakarta, 12 April 2016. Kedatangan Ahok tersebut untuk dimintai keterangannya terkait penyelidikan dugaan korupsi pembelian lahan RS Sumber Waras. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.COJakarta - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengibaratkan memilih pemimpin seperti membeli sepeda motor. "Kalau kamu punya uang Rp 10 juta, lalu bisa dapat motor Jepang, kamu beli motor buatan Cina yang mereknya enggak jelas, merek 'Ahok', misalnya. Lu (Anda) pasti pilih Yamaha, Honda, atau Suzuki, Kawasaki," katanya di Balai Kota, Senin, 18 April 2018.

    Ahok mengatakan sudah tentu masyarakat memilih sepeda motor merek Jepang karena kualitasnya. Dia menganalogikan masyarakat harus memilih kualitas yang baik tapi tak harus satu golongan. Nasib lima tahun Jakarta, kata Ahok, ditentukan dalam pemilihan Gubernur DKI nanti. "Nasib kamu lima tahun itu sama, buang waktu juga sama, yakni waktu datang ke TPS (tempat pemungutan suara). Pilihlah yang terbaik yang bisa mengurusi kamu," tuturnya.

    Untuk maju dalam pilkada 2017, Ahok mengatakan ia tidak akan mendeklarasikan diri. Pasalnya, kata dia, setiap serangan yang dilontarkan kepadanya lewat isu-isu panas sama saja dengan kampanye. "Enggak usah deklarasi. Tiap hari orang diserang semua sudah deklarasi kok," katanya.

    Ahok menyebutkan isu yang menyerang belakangan ini tidak akan menjatuhkan citranya menjelang pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017. "Santai saja. Aku itu orangnya nothing to lose kok. Aku enggak pernah kampanye memilih orang, 'Pilih saya! Pilih saya!' Enggak," katanya.

    Ahok mengatakan, jika ada calon pemimpin yang lebih baik dan jujur daripada dia, sebaiknya masyarakat jangan memilih dia. Menurut Ahok, warga Jakarta sebaiknya mendapatkan sosok yang terbaik untuk dijadikan pemimpin. Asalkan, tidak menjual isu suku, agama, dan ras. "Tapi bukan cuma mengaku-ngaku seagama, sesuku, seras. Ya jangan dong. Kamu harus pintar sedikit," ucapnya.

    LARISSA HUDA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.