Sabtu, 24 Februari 2018

Kuasa Hukum Nyatakan Banding Atas Vonis Mati Ang Kim Soei

Oleh :

Tempo.co

Selasa, 15 Juli 2003 09:39 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Kuasa hukum Ang Kim Soei, Syahrizal E. Damanik, SH menyatakan banding terhadap putusan hakim di Pengadilan Negeri Tangerang, Propinsi Banten, Senin (13/1). Dalam sidang tersebut, raja ekstasi itu divonis mati. "Alasan kami, selama proses persidangan, pertimbangan- pertimbangan kami tidak pernah didengar oleh majelis hakkim," kata Damanik. Majelis hakim yang diketuai M. Hatta Ali, SH membacakan putusan mati tersebut secara bergantian. Sidang vonis itu sendiri berlangsung empat jam sejak pukul 09.00 WIB. Ang Kim Soei, oleh hakim kemarin dinilai bersalah tanpa hak dan melawan hukum memproduksi secara terorganisir, memiliki, menyimpan dan mengedarkan ribuan butir pil ekstasi hingga ke China, Malaysia, dan Singapura serta San Fransisco. Ang Kim Soei yang punya banyak nama seperti Kim Ho, Ance Tahir, Tommy Wijaya itu oleh majelis hakim dinyatakan terbukti telah melanggar pasal 59 ayat 1B jo pasal 59 ayat 2 UU Psikotropika No. 5 tahun 1997 jo pasal 55 ayat 1 butir pertama KUHP tentang psikotropika golongan I. Putusan mati oleh majelis hakim sesuai dengan tuntutan jaksa yang diketuai Roskanedi, SH yakni hukuman mati. Ang Kim Soei tampak menggeleng-gelengkan kepala saat Hatta Ali mengetokkan palu dan menyatakan menjatuhkan pidana mati. Ekspresi roman muka pemilik dua pabrik penyulingan ekstasi di Jalan Imam Bonjol No. 71 A, Karawaci dan pencetak pil di Jalan Hasyim Ashari Km 1 No 29, Cipondoh itu juga tampak memerah. Kendati demikian, Damanik mengatakan bahwa keputusan itu berdasarkan hati nurani hakim. namun, pihaknya menilai, selama persidangan berlangsung tidak ada fakta dan bukti bahwa kliennya merupakan pemilik pabrik ekstasi. Apalagi, keterangan terdakwa dalam persidangan menyebutkan bahwa pengakuannya dalam BAP dilakukan dibawah tekanan polisi."Jika tidak mengaku saya mau di-810 (ditembak-Red)," kata Ang Kim Soei, beberapa waktu silam. Kuasa hukum Ang Kim Soei dalam pledoinya juga menyatakan dakwaan jaksa error in persona (salah tangkap). Hal itu didasari pada ciri-ciri Daftar Pencarian Orang (DPO) Mabes Polri, bernama Kim Ho, warga negara Taiwan dengan tinggi 160 cm, bermata sipit dan rambut lurus. Sedangkan Ang Kim Soei selain tingginya lebih dari 160 Cm, bermata bundar, adalah warga negara Belanda. Majelis hakim juga menilai, tidak ada hal-hal meringankan terdakwa, kecuali sejumlah poin memberatkan. Diantaranya, terdakwa berbelit-belit dalam memberikan keterangan. Selain itu, perbuatan terdakwa dapat merusak ketahanan bangsa, apalagi perbuatan itu tergolong penyalahgunaan psikotropika karena di luar pengawasan Departemen Kesehatan. Ang Kim Soei juga dinyatakan telah masuk dalam DPO sejak mencuat kasus kepemilikan pabrik ekstasi di Kreo, Ciledug pada tahun 1998 yang melibatkan Burhan Tahar sebagai tersangka. Karena hukuman yang ditimpakan kepada Ang Kim Soei tergolong berat, maka hakim mempertimbangkan, biaya persidangan ditanggung oleh negara. Sedangkan uang senilai Rp.2,2 miliar dalam pecahan, 4.200 dolar Singapura, 200 dolar AS, 5.670 dolar Hongkong, 10.500 Rimin of Cina dan Rp.200 juta dirampas untuk negara. "Uang sebanyak itu merupakan hasil kejahatan, maka majelis hakim memutuskan dirampas untuk negara," kata Hatta Ali. (Ayu Cipta-Tempo News Room)

     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Ucapan Pedas Duterte, Memaki Barack Obama dan Dukung Perkosaan

    Presiden Filipina Rodrigo Duterte sering melontarkan ucapan kontroversial yang pedas, seperti memaki Barack Obama dan mengancam pemberontak wanita.